Prospek Pertemuan Wina yang Membahas Nuklir Iran

- Rabu, 10 November 2021 | 17:17 WIB
Jawaban atas pertanyaan apakah Iran boleh memiliki senjata nuklir bukan berasal dari Wina, melainkan dari Washington dan Tel Aviv. (Pixabay/OpenClipart-Vectors)
Jawaban atas pertanyaan apakah Iran boleh memiliki senjata nuklir bukan berasal dari Wina, melainkan dari Washington dan Tel Aviv. (Pixabay/OpenClipart-Vectors)

Jawaban atas pertanyaan apakah Iran boleh memiliki senjata nuklir bukan berasal dari Wina, melainkan dari Washington dan Tel Aviv. Israel yang bertekad Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir menggunakan Amerika Serikat sebagai wakilnya.

Isarel langsung membunuh tenaga ahli nuklir Iran, seperti Mohsen Fakhrizadeh, dengan berbagai cara. Kabarnya sudah empat ilmuwan Iran ditewaskan agen-agen rahasia Israel.

Kondisi serupa di atas yang membayangi rencana pertemuan Iran dengan China, Russia, Jerman, Prancis, Inggris dan Amerika Serikat di Wina, Austria pada 29 November mendatang. 

Topik utama pertemuan adalah keikutsertaan kembali Amerika Serikat dalam perundingan kelompok Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) setelah keluar pada 2018.

Sebenarnya Iran pada 2015 sepakat (1) membatasi pengayaan uraniumnya untuk tujuan sipil maupun digunakan membuat senjata nuklir. (2) Jumlah bahan yang ditimbunnya. (3) Peralatan yang digunakan untuk melakukan pengayaan uranium. (4) Mengizinkan tenaga-tenaga ahli asing dari Badan Tenaga Atom Internasional, untuk melakukan pemeriksaan kebenaran kesepakatan itu. 

Sebagai imbalannya, Iran diperbolehkan memperoleh kembali aset-asetnya dibekukan di luar negeri, baik yang disebabkan kemenangan Revolusi Iran pada 1979 dan berdasarkan JPOA.

ASET

Aset Iran yang dibekukan bernilai US$100 miliar-US$120 miliar, hampir US$1,973 miliar diantaranya di Amerika Serikat. Menurut Dinas Riset Kongres, selain yang tersimpan di bank, aset Iran juga mencakup real estate dan properti lainnya, seperti satu pencakar langit di kawasan Manhattan, New York. Total US$50 juta.

Aset Iran juga tersimpan di Korea Selatan US$7 miliar. Irak US$6 miliar. China US$20 miliar. Jepang US$ 1,5 miliar dan Luksemburg US$1,6 miliar. Diperkirakan aset ini merupakan hasil penjualan migas Iran.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB

Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Jumat, 6 Mei 2022 | 19:10 WIB
X