Sejarah dan Filosofi Mendoan: Gorengan Khas Banyumas dan Warisan Budaya Tak Benda

- Minggu, 7 November 2021 | 19:05 WIB
Sejarah dan filosofi mendoan membalut kudapan dengan lezat. Gorengan khas Banyumas ini ialah warisan budaya tak benda Indonesia. (Wikimedia Commons/Hersy ardianty a (CC))
Sejarah dan filosofi mendoan membalut kudapan dengan lezat. Gorengan khas Banyumas ini ialah warisan budaya tak benda Indonesia. (Wikimedia Commons/Hersy ardianty a (CC))

Sejarah dan filosofi mendoan membalut kudapan ini dengan lezat. Gorengan khas Banyumas ini pun ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Indonesia dikenal dengan kuliner gorengannya, seperti bakwan, tahu susur, dan mendoan. Gorengan biasa dijadikan sebagai lauk atau sebagai cemilan teman minum teh atau kopi. Orang Indonesia biasa makan gorengan dengan ceplusan cabai rawit.

Dan di antara gorengan itu, ada yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Ya, mendoan—gorengan khas Banyumas—ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2021 yang digelar Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi di Jakarta, 26-30 Oktober 2021.

Dalam sidang tersebut, ada 289 objek budaya yang ditetapkan dan terbagi dalam beberapa kategori meliputi: tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukkan, adat istiadat masyarakat dan perayaan-perayaan, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta, serta kemahiran tradisional.

Untuk Jawa Tengah, mendoan khas Banyumas ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia kategori Ketrampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional bersama dengan kuliner Jawa Tengah lainnya seperti dari Solo ada timlo, sate kere, serabi notosuman, dan warung HIK; kemudian nopia, oleh-oleh khas Purbalingga; serta Sega Grombyang dari Pemalang.

Mendoan sendiri merupakan cemilan yang terbuat dari tempe berbentuk kotak yang diiris tipis, kemudian dibalut dengan adonan tepung berbumbu yang sudah ditambahkan irisan daun bawang, lalu digoreng setengah matang. Meski dikenal khas Banyumas, namun mendoan juga bisa dijumpai di Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen.

Koderi dalam buku Banyumas, Wisata dan Budaya (1991) menyatakan, daerah Banyumas memiliki makanan khas, yaitu kripik dan mendoan. Kripik dan mendoan sebenarnya sama, hanya berbeda menggorengnya. Kripik digoreng kering, sedangkan mendoan digoreng hanya sebentar.

Perbedaan lain, menurut M. Koderi,  kripik harus dibuat dari tempe tipis (khusus), sedangkan mendoan bisa juga dengan tempe tebal yang diiris tipis-tipis. Kripik bisa tahan lama, mendoan harus dimakan (enaknya) saat masih dalam keadaan hangat.

Cara membuat tempe mendoan ala Banyumas sangat mudah. Tempe diiris tipis-tipis, lalu dibalur dengan adonan yang terbuat dari tepung terigu dan beras—yang telah diberi daun bawang dan bumbu halus meliputi bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, dan garam. Kemudian digoreng setengah matang.  Mendoan biasa dijadikan lauk, juga sebagai cemilan yang dinikmati dengan cara dicocol dengan sambal kecap.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB

KurMer dalam Falsafah Jawa: Mamayu Hayuning Bawana

Jumat, 9 September 2022 | 16:25 WIB

Raja Surakarta Kunjungi Hotel Isola

Jumat, 9 September 2022 | 15:44 WIB

Cinambo Semula Berupa Dasar Sungai

Kamis, 8 September 2022 | 21:32 WIB
X