SPARTA, Geng Hitam dari Cikudapateuh

- Kamis, 4 November 2021 | 15:58 WIB
Para anggota klub SPARTA yang dikenal sebagai “Geng Hitam”, karena seragamnya selalu dominan warna gelap.  (Sumber: W.L. Berretty (1934: 129))
Para anggota klub SPARTA yang dikenal sebagai “Geng Hitam”, karena seragamnya selalu dominan warna gelap. (Sumber: W.L. Berretty (1934: 129))

SPARTA disebut sebagai geng hitam (De Zwarte Bende) dari Cikudapateuh, karena berseragam kaus hitam dengan gambar jantung merah-putih di dada kiri dan celana hitam.

Melalui pemberitaan berbagai koran pada perempat pertama abad ke-20, saya jadi tahu bahwa perkembangan sepak bola di Bandung diwarnai dengan kehadiran klub-klub sepak bola yang didirikan oleh Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) alias tentara kolonial Hindia Belanda.

Ini mengandung arti sejak saat itu, Bandung bertaut dengan pusat-pusat militer Hindia Belanda. Sebagai buktinya, menurut J. Paulus, D.G. Stibbe, dan S. De Graaff (Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie,  Vijfde Deel, 1927: 356), Bandung menjadi rumah bagi 15e Bataljon Infanterie, 1e Depot Bataillon, subsistentenkader, peloton Ordonnansen, Depot der Cavalerie, Kaderschool, IIde Afdeeling motor-artillerie, staf Kust- en Stellingartillerie, direksi Materiëel dan Magazijn van Oorlog, Automobiel Compagnie dan Gewestelijk-Genie-eerstaanwezendschap.

Sementara S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland (Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, 1927) menyinggung kehadiran beberapa pusat militer di sekitar Cikudapateuh. Menurut mereka, di seberang rel atau kembali ke Jalan Raya Pos di sepanjang Pasar Kosambi dan Halte Cikudapateuh, ada area militer. Di sana ada kompleks, Pyrotechnische Werkplaatsen (PW), gudang departemen peperangan, klub militer, dan lapangan olah raga.

Dengan demikian, sebelum membahas klub sepak bola militer di Bandung, saya akan sedikit banyak mengurai sejarah kepindahan pusat-pusat militer ke Bandung. Mengenai hal tersebut dapat bermula dengan pendirian gudang militer atau gudang amunisi di Cikudapateuh yang sudah direncanakan sejak 1901 (De Locomotief, DL, 15 Februari 1901) dan sudah beroperasi pada 1902 (DL, 9 Agustus 1902). Pada 1906, dikatakan Desa Cikudapateuh di timur laut Kota Bandung sudah menjelma menjadi kompleks enam bangunan militer (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch Indie, HNDNI, 28 Juli 1906).

Selanjutnya, dalam Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie voor 1905 (deel 1, 1905: 534-540), sejak 1905 pasukan artileri ke-19 juga pindah ke Cikudapateuh. Demikian pula Batalion ke-15 (vijftiende bataljon) yang dipindahkan antara 1909 dan 1910 (HNDNI, 23 Oktober 1909), PW pada 1910 (HNDNI, 22 Januari 1910), dan detasemen pasukan kereta pada 1912 (AID, 9 Juni 1912). Sementara Artillerie Constructie Winkel (ACW) dipindahkan ke Kiaracondong pada 1918 (Voorbereiding, A.J, Bakker, 1923).

Namun, yang paling penting, saya pikir, adalah pindahnya Departement van Oorlog (DVO) dan Paleis Legercommandant, plus batalion-batalion lainnya. Wacana kepindahan DVO dari Batavia sudah mengemuka sejak 1903 dan 1909 lalu direncanakan pindah pada 1912 (HNDNI, 3 Januari 1911). Pada praktiknya, dilakukan secara bertahap. Pada 1915, sebagian DVO dialihkan ke Bandung, sebagian lainnya menyusul pada 1916 (De Sumatra Post, DSP, 5 Januari 1915).

Kemudian, sejak 1 Juni 1915, afdeling keempat DVO yaitu hoofdbureau der genie dipindahkan ke Bandung (HNDNI, 14 April 1915), bagian intendance pada November 1915 (DSP, 12 Agustus 1915), afdeling kedua DVO pada Oktober 1916 (DSP, 9 Februari 1916), afdeling ketiga artileri DVO pada 1 Juni 1916 (HNDNI, 18 Mei 1916), divisi pertama pada pada akhir Oktober 1916 dan divisi kedua pada awal Desember 1916 (HNDNI, 5 Juli 1916).  Dalam HNDNI (27 September 1916) masih dikatakan hingga Januari 1917, ada divisi infanteri yang akan dipindahkan ke Bandung. Akhirnya, Panglima KNIL Letnan Jenderal De Greve mulai menempati Paleis Legercommandant pada Sabtu, 23 Desember 1916 (HNDNI, 23 Desember 1916).

Demikianlah, pemindahan pusat-pusat militer dari berbagai tempat, terutama dari Batavia, ke Bandung, dilakukan secara bertahap antara 1901 hingga 1917. Lalu apa kaitannya dengan perkembangan sepak bola di Bandung? Jelas ada. Karena dengan pindahnya pusat-pusat militer itu berarti banyak prajurit beserta keluarganya yang dipindahkan ke Bandung. Para serdadu kolonial itu banyak yang sudah memainkan, bahkan mendirikan klub sepak bola, di tempat asalnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X