Raja Rimba Saba Desa di Tjimahi Tempo Doeloe: Sang Harimau Jawa

- Selasa, 2 November 2021 | 15:55 WIB
Raja Rimba harimau Jawa telah membuat teror di tiga titik wilayah district (kewedanaan) Tjimahi, yang termasuk wilayah regentschap Bandoeng. (Wikimedia Commons)
Raja Rimba harimau Jawa telah membuat teror di tiga titik wilayah district (kewedanaan) Tjimahi, yang termasuk wilayah regentschap Bandoeng. (Wikimedia Commons)

Raja Rimba harimau Jawa telah membuat teror di tiga titik wilayah district (kewedanaan) Tjimahi, yang termasuk wilayah regentschap (kabupaten) Bandoeng

Saat ini banyak orang yang mencari dan meneliti keberadaan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang sebenarnya telah dinyatakan punah, hanya saja jejak-jejak keberadaannya masih muncul.

Dan jika saja ditemukan maka hewan tersebut adalah hewan langka yang sangat wajib untuk dilindungi. Dahulu kala, tepatnya pada zaman kolonial, pandangan masyarakat terhadap harimau tersebut lain ceritanya. Alih-alih mencari, meneliti, dan memandang sebagai hewan langka yang perlu dilindungi jika ditemukan, masyarakat saat itu memandang harimau sebagai hama yang perlu dibasmi. Hal tersebut akan penulis kupas pada paragraf-paragraf berikutnya.

Di wilayah Priangan sendiri, secara umum, hewan-hewan liar tercatat masih banyak berkeliaran pada abad ke-19. Catatan ini ada di dalam buku De Preanger-regetschappen op Java Gelegen (penl. Keresidenan Priangan yang terletak di pulau Jawa) terbitan tahun 1830 karya Andries de Wilde, seorang tuan tanah yang menamai wilayah tanah perkebunan miliknya dengan nama Sukabumi, kemudian tanahnya tersebut dipindah ke wilayah yang saat ini menjadi wilayah yang terbentang dari Padalarang hingga Ujungberung, dengan budidaya utamanya yaitu budidaya kopi.

Menurut De Wilde, hewan-hewan liar banyak berkeliaran di seluruh tanah Priangan. Binatang-binatang itu di antaranya adalah badak, munding leuweung (kerbau liar), banteng, uncal (rusa liar), peucang (kancil), ajag (anjing liar), usung esang (musang), monyet yang beranekaragam, ucing leuweung (kucing hutan), careuh (sejenis musang), meong congkok, landak, bedul leuweung (babi liar), meong tutul (macan tutul), serta meong hideung (macan kumbang).

Hewan yang paling utama atau rajanya adalah maung gede (harimau besar), yang tidak hanya terbatas di daerah pegunungan tinggi saja, tetapi sering berkeliaran di daerah yang lebih rendah, dan bahkan dekat dengan tempat-tempat berpenghuni. Kadang-kadang hewan pemangsa ini melakukan perjalanan dalam kawanan yang terdiri dari lima hingga enam ekor. Mereka mengaum, berkeliaran, berenang menyeberangi sungai, dan menarik perhatian setiap orang yang mereka temui di perlintasannya.

Kemudian De Wilde pun memberikan informasi bahwa di beberapa distrik, ketika Residen, atau para petinggi lainnya, akan datang secara mendadak untuk melakukan inspeksi kebun kopi, maka pada malam hari sebelum kedatangan mereka, para penduduk akan digiring dengan membawa obor ke perkebunan yang letaknya di pegunungan dengan hutan yang masih lebat, untuk membersihkan kebun-kebun itu dengan bantuan cahaya obor itu. Dalam salah satu peristiwa semacam ini pernah ada seorang nenek-nenek tua yang diterkam, diseret lalu dimangsa oleh seekor harimau, hanya saja De Wilde tidak memberitahu di distrik mana itu terjadi. Itulah gambaran Priangan dan sekitarnya secara umum pada abad ke-19.

Kemudian harimau masih tercatat berkeliaran di Priangan pada awal abad ke-20, dan di sini secara spesifik, Si Raja Rimba itu telah membuat teror di tiga titik wilayah district (kewedanaan) Tjimahi, yang termasuk wilayah regentschap (kabupaten) Bandoeng. Pada koran De Nieuw Vorstenlanden edisi hari Sabtu 21 januari tahun 1928 hal ke-2 kolom sebelah kiri, di sana terdapat berita pendek dengan judul Tijger of gladakkers? yang artinya ‘Harimau atau anjing liar?’ yang isi beritanya menceritakan bahwa seorang penduduk pribumi, yang tinggal di sudut selatan lapangan tembak di Goenoeng Bohong di Tjimahi, menemukan salah satu dombanya telah dibunuh oleh seekor predator pada malam hari antara tanggal 16-17 Januari.

Hanya saja predator tersebut masih belum jelas, apakah harimau atau anjing liar. Yang jelas adalah bangkai domba tersebut telah kehilangan salah satu kakinya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X