Kejayaan Perdagangan Lada Abadi dalam Toponimi 

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 08:45 WIB
Lokasi nama geografi Pamarican (diberi garis jingga) yang terdapat dalam Peta Topografi - Lembar Banten (1878-1885). Batavia: Topographisch Bureau van de Generale Staf.  (Dipublikasikan secara digital oleh: Universitaire Bibliotheken Leiden, 2009.)
Lokasi nama geografi Pamarican (diberi garis jingga) yang terdapat dalam Peta Topografi - Lembar Banten (1878-1885). Batavia: Topographisch Bureau van de Generale Staf. (Dipublikasikan secara digital oleh: Universitaire Bibliotheken Leiden, 2009.)

Di kaki gunung di Banten, ada nama kampung Cipedes. Sedangkan di pantai utara Banten, terdapat kampung Pamarican yang termasuk ke dalam Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Semula, kawasan ini berada di pinggir pantai, tak jauh dari pelabuhan Banten di muara Ci Banten. Kini garis pantainya sudah bergeser ke utara, karena pelumpuran yang begitu cepat.

Tanah timbul yang saat ini menjadi tambak ikan dan udang, sebagian sudah dihuni, menjadikan letak Keraton Surosowan, Benteng Surosowan, Masjid Agung Banten, Vihara, Benteng Speelwijk, dan gudang merica, sudah berada seribu meter lebih ke dalam, lebih ke selatan dari garis pantai sekarang.

Baca Juga: Jalan Setapak di Distrik Jampang Kulon Awal Abad ke-19

Pamarican merupakan gabungan dari pa-marica-an, pa --- an menunjukan tempat, bermakna sebagai tempat penyimpanan merica. Di sini semula berupa pamaricaan, tempat atau gudang penyimpanan merica milik para pedagang sebelum dikapalkan, sambil menunggu jumlahnya cukup untuk muatan satu satu kapal. Gudang-gudang merica ini menjadi ciri kawasan, menjadi pamarican, sebutan untuk memudahkan menunjukkan lokasi, lalu menjadi nama geografi Pamarican.

Pada abad ke-16, Banten sudah lama menjalin hubungan dagang dengan India dan China, baru kemudian dengan bangsa-bangsa Eropa. Sangat mungkin tanaman merambat ini masuk Banten dibawa oleh pedagang India, berbarengan dengan masuknya Hindu ke Nusantara. Kemudian diujicoba ditanam pada masa awal di Banten.

Setelah komoditas ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, kemudian ditanam juga di berbagai tempat, seperti di Jawa Barat. Jejaknya melekat dalam nama-nama geografi yang memakai unsur tanaman ini, seperti Pedes (Karawang), Cipedes (Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kabupaten Tasikmalaya), Pamarican (Kabupaten Ciamis), dan Sahang (Kabupaten Sumedang). Di seberang Selat Sunda, lada banyak ditanam di Tulangbawang (Lampung), Bengkulu Selatan, Jambi, Palembang, Siak, Kampar, dan Pariaman. Di Kalimantan lada berkembang di Martapura, Banjarmasin, dan Sukadana.

Sepanjang periode abad ke-16 dan 17, Banten mampu mempertahankan kekuasaannya atas Selat Sunda, karena didukung oleh penduduknya yang setia menanam lada, yang ikut menggemukkan pundi-pundi Banten. Lada, pedes, merica, sahang, empat nama untuk satu biji yang sama. Butiran-butiran ini pun mendapat julukan yang mendunia, The king of spice. [*]

Baca Juga: Rangkaian Bukit Pasir, Tanggul Alami Penghalang Tsunami

 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB

Para Pejabat Cicalengka Tahun 1871-1923

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:02 WIB
X