Kejayaan Perdagangan Lada Abadi dalam Toponimi 

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 08:45 WIB
Lokasi nama geografi Pamarican (diberi garis jingga) yang terdapat dalam Peta Topografi - Lembar Banten (1878-1885). Batavia: Topographisch Bureau van de Generale Staf.  (Dipublikasikan secara digital oleh: Universitaire Bibliotheken Leiden, 2009.)
Lokasi nama geografi Pamarican (diberi garis jingga) yang terdapat dalam Peta Topografi - Lembar Banten (1878-1885). Batavia: Topographisch Bureau van de Generale Staf. (Dipublikasikan secara digital oleh: Universitaire Bibliotheken Leiden, 2009.)

Kejayaan Banten dalam perdagangan lada, bukan saja terabadikan dalam catatan-catatan para penjelajah dan laporan perdagangan, namun juga terabadikan menjadi nama-nama geografi atau toponimi.

Perdagangan lada di pelabuhan Kesultanan Banten ramai sekali, maka para pedagang dari berbagai negara itu kemudian tinggal untuk sementara waktu di kota pinggir sungai yang ramai, seperti di Karangantu.

Di sana didirikan permukiman pedagang dari Cina, Malaya, Portugis, Belanda, dan lain-lain.

Salah satu pelabuhan alami yang sudah ramai dengan perdagangan adalah Pelabuhan Banten, seperti yang ditulis oleh Tom Pires pada tahun 1512-1515 (Suma Oriental, Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodrigues (Penerbit Ombak, 2014).

Tom Pires menuliskan tempat-tempat yang disinggahinya dan menuliskan karakter dan kegiatan para penghuninya.

Tentang pelabuhan Banten, Tom Pires menulis, “Kita akan memulai pembahasan dengan mengisahkan Kerajaan Sunda yang terkenal. Wilayah ini berada di wilayah Jawa. Sunda dipimpin oleh Raja Sunda. Ia berkuasa atas Kota Dayo yang besar, kota, tanah, dan pelabuhan Banten (Bantam), Pelabuhan Pontang (Pomdam), Pelabuhan Cigede (Cheguide), Pelabuhan Tangerang (Tamgaram), Pelabuhan Sundakalapa (Calapa), dan Pelabuhan Cimanuk (Chemano).”

Tentang Pelabuhan Sunda: Banten, Tom Pires menulis, “Kerajaan Sunda memiliki beberapa pelabuhan. Pelabuhan pertama bernama Banten. Jung-jung merapat di pelabuhan ini, yang merupakan pelabuhan dagang.

Terdapat kota yang bagus di dekat sungai. Kota ini dipimpin oleh kapten, seorang tokoh yang sangat penting. Pelabuhan ini melakukan kegiatan perdagangan dengan kepulauan Maladewa dan dengan wilayah Fansur di Sumatra.

Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terpenting di antara lainnya. Sungai yang mengalir di wilayah ini berakhir di laut. Wilayah ini mempunyai beras dalam jumlah besar, bahan makanan, serta merica.”

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X