Asal-Usul Bandoengsche Voetbal Bond

- Kamis, 28 Oktober 2021 | 08:45 WIB
Para pengurus Bandoengsche Voetbal Bond (BVB) hingga Agustus 1924. (AID, 27 Agustus 1924)
Para pengurus Bandoengsche Voetbal Bond (BVB) hingga Agustus 1924. (AID, 27 Agustus 1924)

Dalam pelaksanaannya, pertandingan tim militer dan sipil itu diselenggarakan pada hari Minggu sore, 22 Juni 1913. Laporan lengkap pertandingannya dimuat dalam De Expres edisi 24 Juni 1913. Pertandingan itu menuai sukses. BVB berhasil memasuki kancah olah raga Bandung secara bermartabat. Keberhasilannya bahkan melingkupi pelbagai segi. Publik demikian antusias menyaksikan pertandingan pembukaan (openings-wedstrijd).

Dalam pertandingan Minggu sore itu, tim militer terdiri atas Van de Kleij, Ligthart, Barske, Dijkstra, Tommi, Röehl, Vianen, Withoek, Romijn, Henskens, dan Bloem. Sementara kesebelasan sipil terdiri atas Djoko, Kessler Jr., Kessler Sr., Endieg, Seelig, Finch, Belloni, Atma, Van Grumbkow, K. Lufting, dan Mian. Wasit yang memimpin pertandingannya adalah Gobee. Hasil akhirnya, kesebelasan sipil ditekuk tim militer dengan skor 1-3.

Klub Pribumi Turut Terlibat

Minggu kedua Juli 1913, terlihat perkembangan pertandingan dua divisi yang diselenggarakan BVB. Dalam De Expres edisi 14 Juli 1913, tim divisi satu yang telah bertanding adalah UNI melawan MBVC dengan skor 3-0, DOS versus RONEO dengan skor 8-0. Sementara tim divisi dua yang telah bertarung adalah SETIA OESAHA vs DREADNOUGHT (1-0), PPVC vs SPIN (1-1), dan LODAIJA-KBS (1-1).

Bila membaca nama-nama klub di atas, banyak di antaranya merupakan kesebelasan pribumi. Saya jadi tahu, karena membaca berbagai pemberitaan media sezaman, terutama dari De Expres dan AID de Preanger-bode. Dari De Expres edisi 27 Mei 1913, diketahui RONEO dan DREADNOUGHT adalah klub pribumi. Demikian pula dengan SETIA OESAHA, PPVC, dan LODAIJA (De Expres, 30 Juni 1913). Kesebelasan lainnya yang pribumi adalah NVC, KVC, KBS, EVC (De Expres, 23 Juni 1913 dan 7 Juli 1913), DAJA KAMOEKTEN, KBS, LUZON, KG, dan SINAR HINDIA (AID, 23 Februari 1914 dan 20 April 1914).

Alhasil, dalam rentang, paling tidak, antara 1913-1914, banyak bermunculan klub sepak bola pribumi yang mengikuti kompetisi di Bandung, terutama yang diselenggarakan oleh klub dan federasi sepak bola bangsa Eropa. Dapat dikatakan, perkembangan ini merupakan lanjutan dari kecenderungan meningkatnya pendirian klub sepak bola pribumi pada rentang tahun 1909 hingga 1910 – sebagaimana yang sudah saya tulis sebelumnya.

Baca Juga: Klub SS dari Jawatan Kereta Api

Ini juga mengafirmasi pernyataan redaksi De Expres mengenai kebangkitan kembali persepakbolaan di Bandung. Apalagi mengingat dari daftar di atas ada pula kesebelasan sepak bola yang didirikan oleh kalangan profesional atau para pegawai, seperti SPIN yang merupakan klubnya para pegawai pegadaian (de beambten van den pandhuisdienst) (De Expres, 7 Juli 1913). Apalagi ditambah klub-klub militer yang terbilang lumayan banyak, seperti DOS dari Cimahi (De Expres, 27 Mei 1913), MBVC dari Cikudapateuh (De Expres, 27 Juni 1913), dan SPARTA dari Cimahi (De Expres, 7 Juli 1913).

Adanya klub-klub pribumi, kalangan profesional, dan militer itu, BVB menyelenggarakan beberapa kompetisi. Seperti “Gewijzigd Competitie” yang melibatkan tim-tim divisi dua BVB, baik dari kalangan sipil maupun militer, baik dari kalangan Eropa maupun pribumi. Di antaranya EVC, KVC, DOS, MBVC, PPVC, SPARTA, LODAJA, dan DREADNOUGHT, dengan tempat penyelenggaraan kompetisi di lapangan UNI di Cikudapateuh (De Expres, 23 Juli 1913).

Demikian pula saat Hindia Belanda turut memperingati 100 tahun (1813-1913) kemerdekaan Kerajaan Belanda atas penjajahan Prancis pada tahun 1913. Untuk menyambut peristiwa bersejarah itu, di Bandung diselenggarakan pesta olah raga (sportfeesten) yang di antaranya tentu saja sepak bola (Voetbalwedstrijden voor de Jubileums-Sportfeesten). Rangkaian acara itu diselenggarakan di lapangan Cikudapateuh, depan pintu masuk barak Batalyon Infanteri ke-15 KNIL. Komite yang menangani sepak bola berada di tangan Letnan Ouwehand dan Visman (AID, 18 Oktober 1913).

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB
X