Mengangkat Bahasa dan Sastra Lokal: Menjaga Catatan Sejarah dari Kepunahan

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 14:41 WIB
[Ilustrsi buku bahasa dan sastra] Budaya adalah salah satu patron sejarah. Bahasa dan sastra merupakan replika budaya dari suatu bangsa.  (Pixabay/Alexas_Fotos)
[Ilustrsi buku bahasa dan sastra] Budaya adalah salah satu patron sejarah. Bahasa dan sastra merupakan replika budaya dari suatu bangsa. (Pixabay/Alexas_Fotos)

Budaya adalah salah satu patron sejarah. Bahasa dan sastra merupakan replika budaya dari suatu bangsa.

Maka bila budaya hilang atau punah dari perjalanan peradaban, catatan sejarah juga akan hilang.

Kita sangat prihatin dengan beberapa bahasa daerah, terutama dari sub-suku adat, tidak pernah lagi terbaca atau menjadi alat komunikasi di beberapa masyarakat, terutama pada masyarakat terdalam dan terpencil.

Sejauh manakah peran bahasa saat ini, dalam mengangkat persoalan-persoalan dimensional dalam membentuk kerangka kebangsaan!?

Rasa pesimistis (tidak berpengharapan) dan skeptis (keraguan) yang muncul, ini karena salah satu penyebabnya ketakutan kita dalam menangkal perubahan-perubahan sosial yang terus-menerus terjadi lewat informasi yang keliru. Terutama dari media sosial, yang sangat menjamur.

Terhadap dampak iklim ini yang berdampak pada kepekaan masyarakat adalah beredarnya bahasa-bahasa yang penuh istilah di luar jangkauan pengetahuan umum. Sering disebut sebagai bahasa gaul. Di satu sisi, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat dinamis, sementara perawatan bahasa dan sastra daerah, sedikit demi sedikit makin tergerus, nyaris punah.

Ini tidak mudah, dengan membiarkan struktur budaya yang juga meliputi bahasa dan sastra lokal berkembang secara alami. Harus ada kepekaan dari pelbagai pihak, yang menjembatani untuk menjaga ekosistem budaya, terutama pada unsur budaya etnis.

Bagaimana pembangunan sarana fisik di daerah-daerah 3T (Terpencil, Terjauh, Terdepan), -dalam fokus tulisan ini- tentunya semakin modern dan mengikuti konsep desain dari perubahan sosial. Apakah nilai-nilai budaya berbanding lurus mengiringinya?

Kenapa menjadi penting, untuk selalu mengingatkan keberadaan bahasa dan sastra di daerah, terutama di beberapa sub-suku yang hampir punah? Sebagai contoh yang kita lihat di pedalaman Papua dan Sulawesi, dalam kurun waktu 20 tahun ke depan terancam punah. Secara logika, jika salah satu unsur budaya etnis hilang, maka mengakibatkan hilangnya budaya suatu suku.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inflasi dan Pasar Saham Indonesia

Rabu, 6 Juli 2022 | 12:41 WIB

Kerbau di Cicalengka Tahun 1880-1900

Minggu, 3 Juli 2022 | 19:36 WIB

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB
X