Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB
China dan Rusia telah menganggap Korea Utara yang dipimpin Kim Jong-un penting, sebagai penghalang perluasan pengaruh Amerika Serikat. (Pixabay/OpenClipart-Vectors )
China dan Rusia telah menganggap Korea Utara yang dipimpin Kim Jong-un penting, sebagai penghalang perluasan pengaruh Amerika Serikat. (Pixabay/OpenClipart-Vectors )

China dan Rusia telah menganggap Korea Utara yang dipimpin Kim Jong-un penting, sebagai penghalang perluasan pengaruh Amerika Serikat (AS) di Asia Timur.

Amerika Serikat sejauh ini belum mampu menaklukan Korea Utara, satu-satunya negara berkembang yang menganut ideologi sosialis-komunis.

Korea Utara tidak seperti Jerman Timur yang runtuh seperti rumah pasir setelah pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev memperkenalkan reformasi di bidang politik dan ekonomi. Glasnost dan Perestroika.

Paham komunis di Jerman Timur itu dipaksakan Uni Soviet setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia 2.  

Ketika tembok Berlin diruntuhkan, penduduk Jerman Timur membanjiri Berlin Barat. Mereka dijamu penduduk lokal.

Sementara sosialis-komunis di Korea Utara berakar sejak Kim Il Sung bersama rakyat dan pemimpin-pemimpin negara baru di seluruh dunia, bangkit menentang penghisapan negara-negara penjajah yang beraliran liberal-kapitalis. Jadi tidak mudah menundukkan Korea Utara.

Kim Il-sung menjabat perdana menteri dari 1948-1972 dan presiden dari 1972 – 1994. Putranya, Kim Jong-il (1991-2011). Anak Jong-il, Kim Jong-un,  menjadi Pemimpin Tertinggi mulai 2011 dan Pemimpin Partai Pekerja sejak 2012.

Ketiganya menjalankan politik luar negeri dengan memanfaatkan  persaingan antar China dan Rusia disatu pihak dengan Amerika Serikat di pihak lain. Bila hubungan ketiga negara membaik, Pyongyang mendekati Seoul dan keduanya merintis kerjasama ekonomi atau mempertemukan keluarga yang terpisah akibat perang.

Berkaitan dengan uji tembak rudal balistik berkecepatan hipersonik  yang diluncurkan dari kapal selam pada 19 Oktober 2021, dapat pula diartikan sejalan dengan latihan perang armada laut China-Rusia di laut Jepang pada 14-17 Oktober. Patroli bersama kedua negara di lokasi yang sama tanggal 17-23 Oktober 2021.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pendidikan Islam Melahirkan SDM Unggul dan Berkualitas

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:24 WIB

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X