Peran Santri, Ekopesantren, dan Kiai Lingkungan, dalam Hari Santri Nasional

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:10 WIB
Inilah salah satu cara merawat Hari Santri Nasional melalui aktivitas ekopesantren dengan menjadikan santri sebagai pejuang tanggap bencana dan garda terdepan banjir.  (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Inilah salah satu cara merawat Hari Santri Nasional melalui aktivitas ekopesantren dengan menjadikan santri sebagai pejuang tanggap bencana dan garda terdepan banjir. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Inilah salah satu cara merawat Hari Santri Nasional melalui aktivitas ekopesantren dengan menjadikan santri sebagai pejuang tanggap bencana dan garda terdepan banjir. 

Rupanya kehadiran musim penghujan ini membuat Tanah Pasundan terus didera banjir bandandang; di Garut, Sumedang sepanjang aliran sungai Cimanuk, banjir bah; di Pasteur, Pagarsih; banjir di Cikole Lembang (15 rumah warga dengan total 19 KK terendam) dan Cibigo (pengendara motor terseret aliran air) ini harus menjadi perhatian bersama pemerintah, pemuka agama, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan dalam mengelola tata ruang Kota dan Kabupaten.

Sejatinya kehadiran Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober harus menjadi momentum yang tepat untuk mengevaluasi cara beragama kita dalam menjaga, merawat, memelihara alam dan lingkungan sekitarnya.

Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat, Thio Setiowekti menilai banjir di Cikole dan Cibigo itu tak hanya tersumbat sampah di saluran air, tapi lahan di bagian hulunya sudah gundul dan tidak ditanami tanaman keras.

Parahnya, kawasan hulu di Lembang (baik kawasan lindung baik tanah milik, tanah desa, lahan Perhutani, maupun lahan milik PTPN VIII) ini, seharusnya jangan ditanami sayuran karena tidak bisa menyerap air, hingga akhirnya menyebabkan banjir.

Plt Kepala Desa Cikole, Ida Suhara menegaskan Hutan Pangkuan Desa (HPD) yang menjadi hulu di daerah Cikole luasnya mencapai 460,13 hektare, sedangkan yang saat ini dikembangkan menjadi lahan pertanian dan wisata kurang dari 10 persen. (Ayo Bandung, Kamis, 21 Oktober 2021 | 16:32 WIB)

Peran Agama

Agama memang memiliki peran penting dan strategis dalam membantu melakukan prevensi, mitigasi dan pemulihan terhadap korban bencana alam. Pada kasus bencan badai Kathrina di Amerika, Francis Gunn sampai memberikan sepuluh alasan tentang pentingnya kelompok agama dalam membantu pemulihan korban bencana alam.

Salah satu alasanya adalah kebanyakan agama menyediakan dan mengajarkan pesan yang dapat membuat manusia (korban bencana) merasa kuat dan menerima bencana sebagai bagian dari proses kehidupan di dunia. Pesan ini dapat disampaikan oleh kelompok agama dengan penjelasan yang sesuai konteks korban bencana. Untuk kasus bencana itu, hanya kelompok relawan agama yang mampu memberikan penjelasan ini yang tidak dimiliki oleh kelompok relawan lainnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pendidikan Islam Melahirkan SDM Unggul dan Berkualitas

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:24 WIB

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X