Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB
Era sekarang sepertinya "nyinyir" telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat kita.  Kata ini berarti nyenyeh atau cerewet. (Pixabay/ashish choudhary)
Era sekarang sepertinya "nyinyir" telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat kita. Kata ini berarti nyenyeh atau cerewet. (Pixabay/ashish choudhary)

Era sekarang sepertinya "nyinyir" telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat kita.

Arti kata "nyinyir" bila merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online ialah mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet.

Terlepas dari arti kata tersebut, yang jelas selama ini kita sepertinya telah bersepakat bahwa nyinyir memiliki arti yang berkonotasi negatif, yakni mengomentari kehidupan orang lain dengan komentar yang nyelekit bahkan menjatuhkan nama baik orang tersebut.

Padahal saya sangat yakin, tak ada seorang pun di dunia ini yang sudi kehidupannya dinyinyiri oleh orang lain.

Ketika membuka akun media sosial misalnya, kita akan melihat orang-orang begitu riuh menyinyiri aktivitas orang lain, terlebih bila aktivitas tersebut dianggap nyeleneh atau memicu kontroversi.

Bahkan ketika orang-orang melakukan postingan yang berisi kebaikan atau hal positif pun, ada sebagian orang yang merasa tak suka (iri dan dengki) lantas merasa gatal untuk menyinyirinya.

Saya ambil contoh, ketika ada orang memposting kegiatan sosial, bersedekah misalnya, ada saja orang yang nyinyir: "sedekah itu nggak usah dipamer-pamerkan, dasar pencitraan!" Komentar seperti ini tentu tak etis, menandakan kita bukan orang berpendidikan sekaligus menyiratkan kebencian serta rasa iri terhadap orang tersebut.

Padahal kita tentu memahami bila sikap semacam ini dilarang dalam ajaran agama mana pun. Ketika kita nyinyir, secara otomatis kita sedang berburuk sangka terhadap orang lain. Oleh karenanya, hindarilah bersikap nyinyir terhadap kehidupan orang lain. Saya yakin, ketika kehidupan kita dinyinyiri oleh orang lain, kita juga akan merasa marah, berang, dan tersinggung.

Asrul Right dalam buku Survival Teacher mengajak pembaca agar berhenti nyinyir tentang hal baik yang dilakukan orang. Ada satu fakta menarik bahwa ternyata orang-orang yang suka nyinyir akan berakibat buruk pada kesehatannya. Universitas Concordia telah melakukan penelitian tentang hubungan kesehatan seseorang dengan kebiasaan nyinyir.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X