Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB
Sekeliling lapangan sepak bola ditutupi pembatas dari bambu. Dengan cara inilah penyelenggara kompetisi memungut bayaran dari penonton. Seperti pada kompetisi Insulinde-medaille di lapangan UNI antara Agustus-September 1909.  (Sumber: KITLV 13617)
Sekeliling lapangan sepak bola ditutupi pembatas dari bambu. Dengan cara inilah penyelenggara kompetisi memungut bayaran dari penonton. Seperti pada kompetisi Insulinde-medaille di lapangan UNI antara Agustus-September 1909. (Sumber: KITLV 13617)

Lima klub sepak bola pribumi diajak serta dalam kompetisi untuk memperebutkan medali perak, yang disebut sebagai “Insulinde medaille”.

Bagaimana perkembangan klub-klub sepak bola pribumi setelah hadirnya kesebelasan STOVIA dan OSVIO? Apakah terus bertambah? Adakah kompetisi yang diselenggarakan di antara klub-klub pribumi? Siapakah penyelenggaranya? Kapankah kompetisi tersebut digelar?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan setelah saya menulis riwayat dan perkembangan klub sepak bola yang dijalankan anak-anak sekolah pamongpraja, calon guru di Bandung, dan pegawai jawatan kereta api.

Usut punya usut, ternyata benar apa yang dibilang Moch. Enoch saat pembukaan Sportpark Tegallega.

Setelah anak-anak sekolah bangsa pribumi memainkan sepak bola, kalangan lain di antara bumiputra turut pula terkena demam sepak bola. Tentang siapa yang terlanda demam sepak bola di antara kalangan pribumi, dapat dilihat dari berita-berita singkat yang ditayangkan dalam koran AID de Preanger-bode antara 1909-1910.

Mari kita lihat saja rinciannya. Atas rencana dan kerja keras UNI, pada 17 Agustus 1909 klub tersebut berhasil mengajak lalu menyusun lima klub sepak bola pribumi yang dapat diajak serta dalam kompetisi untuk memperebutkan medali perak, yang disebut sebagai “Insulinde medaille”.

Lima Kesebelasan Pribumi

Menurut laporan AID (18 Agustus 1909), kelima kesebelasan yang diajak untuk bertarung oleh UNI itu adalah VIK (Vereeniging Inlandsche Kedjaksan), DVC (Drukkerij Voetbal Club), WM (Waschman), VOAS (Vereeniging Orang Anak Slam), dan IVC (Inlandsche Voetbal-Club).

Adapun sistem yang diterapkan oleh UNI untuk kompetisi itu adalah sistem gugur (afvalsysteem). Jadwalnya sebagai berikut: pukul 07.00, Minggu, 21 Agustus 1909, A: VIK vs DVC; pukul 16.30, Minggu, 21 Agustus 1909, B: WM vs VOAS; dan pukul 16.30, Minggu, 28 Agustus 1909, C: pemenang pertandingan B melawan IVC. Finalnya akan diselenggarakan pada hari minggu sore berikutnya pada pukul 16.30 dengan mempertemukan pemenang C dan pemenang A. Pihak yang kalah langsung gugur.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X