Rangkaian Bukit Pasir, Tanggul Alami Penghalang Tsunami

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:02 WIB
Pantai Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Rangkaian bukit pasir (sand dune), benteng alami yang berfungsi sebagai penahan hempasan badai laut dan terjangan tsunami itu kini sudah dihilangkan.  (Deni Sugandi)
Pantai Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Rangkaian bukit pasir (sand dune), benteng alami yang berfungsi sebagai penahan hempasan badai laut dan terjangan tsunami itu kini sudah dihilangkan. (Deni Sugandi)

Di pesisir selatan Jawa Barat, terdapat rangkaian bukit pasir yang memanjang sejajar dengan garis pantai.

Sejak awal, puluhan juta tahun yang lalu, planet biru ini terus berproses, menyempurnakan wujud ronabuminya, sehingga alam telah menyediakan sumberdaya yang dapat mendukung kehidupan mahluk yang terus berkembang.

Bumi bergerak dinamis, menyebabkan adanya patahan atau sesar, yang gerakan dan goyangan gempanya telah membentuk tebing tinggi dan tebing panjang yang curam. Di dasarnya terhampar dataran yang lebar, dan danau-danau yang luas, yang terus bertambah panjang ke arah pergerakan patahan.

Dinamika bumi telah membentuk gunung-gunungapi, yang meletus di dalam lautan atau meledak ketika menjadi daratan. Letusan gunungapi menyediakan batu, kerikil, pasir, tanah, dan debu, yang kemudian dilapukan alam menjadi rumah bagi berkembangnya tunas tumbuhan, perdu, pohon, yang berkembang menjadi hutan.

Alam terus berproses, menghasilkan bentangalam yang memungkinkan manusia dapat bertahan dan berkehidupan.

Di pesisir selatan Jawa Barat, terdapat rangkaian bukit pasir yang memanjang sejajar dengan garis pantai. Alam sudah berproses berjuta tahun, ombak selatan menghempas pantai sambil memasok pasir laut yang berlimpah. Pasir basah itu kemudian mengendap di sepanjang pesisir. Terik matahari mengeringkan pasir, kemudian angin dari arah laut meniup pasir kering yang lebih ringan, kemudian mengendap membentuk gumuk pasir. Makin lama gumuk pasir itu semakin besar, semakin panjang, semakin tinggi, akhirnya menjadi rangkaian perbukitan pasir.

Di atas pasir itu terdapat makanan yang memungkinkan tumbuhan pionir dapat berkembang. Rerumputan yang keras, yang tahan terik matahari, yang kuat diterpa angin kencang bergaram. Vegetasi inilah berperan memperlambat kecepatan angin, sehingga pasir semakin banyak diengendapkan.

Pada musim tertentu, angin kecang menghempaskan rumput laut, kemudian membusuk menjadi pupuk, menjadikan rerumputan pionir dapat berkembang subur, merambati rangkan perbukitan pasir.

Rangkan perbukitan pasir di selatan Jawa Barat itu sangat istimewa, karena tingginya antara 15 m - 25 m, seperti yang terdapat di selatan Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, sehingga menjadi benteng alami yang sangat panjang dan tinggi. Sand dune ini berfungsi sebagai penghalang terjangan tsunami.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X