Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

- Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB
Tahun ini, pemerintah seperti punya kegemaran baru, yakni gemar menggeser-geser hari libur keagamaan. Tanggal merahnya seakan bergeser. (Pixabay)
Tahun ini, pemerintah seperti punya kegemaran baru, yakni gemar menggeser-geser hari libur keagamaan. Tanggal merahnya seakan bergeser. (Pixabay)

Tahun ini, pemerintah seperti punya kegemaran baru, yakni gemar menggeser-geser hari libur keagamaan.

Tanggal merahnya tetap tapi liburnya yang dipindah hari. Dan kegemaran baru ini telah menimbulkan pro dan kontra. 

Setidaknya ada dua hari libur yang digeser. Tahun baru Islam 1443 Hijriah. Yang seharusnya Selasa, 10 Agustus menjadi Rabu, 11 Agustus 2021. Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Dari Selasa, 19 Oktober digeser menjadi Rabu, 20 Oktober 2021.

Pemerintah juga berencana meniadakan cuti bersama pada Natal tahun ini. Tanggal merah pada Jumat, 24 Desember dihapus, sehingga Natal, 25 Desember tidak disertai cuti bersama.

Konon kebijakan ini diambil terkait penanganan covid 19. Pemerintah melihat libur panjang sangat berpotensi melonjakkan kasus positif. Misalnya lonjakan pada Januari-Februari 2021 akibat libur Natal dan tahun baru, serta lonjakan Juli-Agustus yang terjadi setelah perayaan IdulFitri.

Bagaimana pun masyarakat bangsa ini –juga mungkin bangsa lain- cenderung memanfaatkan hari libur untuk ke luar rumah semisal berwisata, pulang kampung, menggelar hajatan, atau pergi ke luar kota. Begitu kira-kira narasi yang dipakai pihak pemerintah dalam hal ini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.  

Jelas sudah bahwa tujuan menggeser hari libur semata untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, semata demi melindungi dan menjaga kesehatan dan keselamatan rakyat. Tentang apakah yang melonjak itu jumlah kasus terinfeksi atau terpapar, atau gabungan dari keduanya itu soal lain. Jadi kebijakan itu sudah tepat karena memang tujuannya mulia. Tidak perlulah dikritik. Itu pendapat dari pihak yang pro.

Selain itu, toh yang digeser cuma hari liburnya bukan tanggalnya. Artinya masih tetap libur. Kan yang membahagiakan dan kita tunggu-tunggu bukan tanggal merahnya tetapi liburnya. Itu kalau kita mau jujur.

Buktinya banyak dari kita yang dongkol kalau menemui tanggal merah tetapi tidak (berasa) libur. Misal tanggal merah yang jatuhnya pas hari Minggu. Kita pasti mikir kenapa tidak digeser saja hari Senin? Atau tanggal merah tetapi tetap wajib masuk kantor karena ada kegiatan yang harus diikuti, misal upacara bendera pada peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB
X