Babak Belur Peternak Ayam Petelur

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
Pedagang telur melayani pembeli di salah satu kios Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu (23 Desember 2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Pedagang telur melayani pembeli di salah satu kios Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu (23 Desember 2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Di sisi lain, suplai telur ayam justru meningkat. Karena daya beli masyarakat menurun, terjadi penumpukan di gudang penyimpanan telur ayam milik peternak. Padahal, gudang hanya bisa menyimpan telur ayam untuk 1-2 hari saja. Selebihnya telur ayam berpotensi busuk sementara pasokan dari peternak terus berdatangan. Karena stok yang menumpuk itulah otomatis peternak asal menjual saja berapa pun harganya.

Berbeda dengan telur ayam, komoditas pokok lain bisa tetap stabil permintaannya selama pandemi. Hal ini dapat terjadi salah satunya dampak transformasi belanja dari konvensional menjadi digital melalui berbagai e-commerce. Sementara penjualan telur ayam tidak bisa mengandalkan melalui online karena rentan pecah dan tidak mudah pengemasannya.

Belum adanya tata kelola yang terstruktur di sektor perdagangan telur ayam membuat masalah seperti ini rentan terjadi. Pemerintah seharusnya membuat aturan tata kelola yang terstruktur seperti mengatur populasi ayam yang diperkenankan. Jumlahnya harus disesuaikan dengan produktivitas dalam menghasilkan telur dan kebutuhan telur nasional. Jika tidak dilakukan, maka mau tidak mau semua permasalahan yang terjadi hanya bisa terselesaikan sendiri secara mekanisme pasar yang membutuhkan waktu tidak sebentar.

Pemerintah beserta kementerian terkait didorong untuk duduk bersama, merumuskan kembali perlu atau tidaknya merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 tahun 2020 tentang Harga Acuan Penjualan di tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. Saat ini Permendag tersebut menetapkan harga batas atas pembelian di peternak Rp 21.000 per kg. Harga acuan seharusnya selain dapat dijangkau konsumen, juga bisa menyejahterakan peternak.

Baca Juga: Stop! Simpan Telur di Pintu Kulkas Sebabkan Penyakit Serius, Begini Penjelasan Ahli

Solusi lain yang bisa diambil yaitu menggaungkan kampanye makan telur ayam di seluruh Indonesia. Selain mudah diperoleh dan mudah diolah, telur ayam termasuk bahan makanan yang sarat nutrisi. Telur ayam bahkan layak diklasifikasikan sebagai superfood atau makanan super karena kandungan zat gizinya.

Ketersediaan dan kualitas bahan pakan lokal juga perlu ditingkatkan. Arah kebijakan pakan nasional ke depan harus menjamin ketersediaan pakan serta meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pakan yang diproduksi dan dipasarkan.

Terkait meningkatnya harga bahan baku pakan asal luar negeri, pemerintah seharusnya mengeluarkan stimulus bea masuk atas bahan dan barang produksi industri yang berasal dari impor. Dengan demikian, peternak dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan. [*]

Baca Juga: Cara Membuat Telur Gulung Mengembang Sempurna: Trik dari Pedagang!

 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X