Babak Belur Peternak Ayam Petelur

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
Pedagang telur melayani pembeli di salah satu kios Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu (23 Desember 2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Pedagang telur melayani pembeli di salah satu kios Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu (23 Desember 2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Sebagai konsumen, harga telur ayam yang terus turun selama pandemi mungkin tidak begitu dipikirkan oleh masyarakat. Mayoritas masyarakat justru senang dengan penurunan harga telur ayam ini.

Lain cerita kalau harganya melambung tinggi, teriakan akan terdengar dimana-mana. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian menunjukkan produksi telur nasional mencapai 5.044.394 ton pada tahun 2020 dengan provinsi penyumbang produksi telur terbanyak yaitu Provinsi Jawa Timur yang berkontribusi hingga 30 persen. Pada tahun 2020, produksi telur di Provinsi Jawa Timur sebesar 1.732.437 ton.

Berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang terkesan adem ayem menyikapi perubahan harga telur ayam, di luar sana para petenak ayam petelur sedang menjerit pilu. Harga telur ayam yang merosot tajam dalam beberapa pekan membuat peternak ayam petelur di sejumlah daerah kelimpungan.

Bahkan salah satu peternak ayam petelur asal Blitar, Jawa Timur, yang bernama Suroto sampai melakukan aksi membentangkan spanduk bertuliskan “Pak Jokowi, Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar” yang ia tujukan saat presiden melakukan kunjungan kerja di wilayah Jawa Timur.

Menurutnya, orang yang bisa memberikan solusi terbaik atas permasalahan mahalnya harga jagung dan anjloknya harga telur ayam hanya presiden Jokowi. Berkat aksinya tersebut, pada Rabu, 15 September 2021 yang lalu, ia bersama perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) dan Peternak Ayam Petelur mendapat kesempatan bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. Dalam pertemuan yang juga dihadiri Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, mereka menyampaikan langsung persoalan mahalnya harga pakan ternak dan rendahnya harga jual telur ayam.

Harga pakan ternak mengalami kenaikan mulai awal tahun 2021. Dari harga normal Rp 4.000-an per kilogram, melonjak sampai dua kali lipat menjadi Rp 8.000-an. Kenaikan harga itu disinyalir karena meningkatnya harga jagung yang merupakan bahan baku pakan ternak. Padahal, Kementerian Perdagangan mengatur harga jagung wajar adalah Rp 4.500 per kg. Para peternak ayam petelur tentu tidak akan menjerit jika kenaikan harga jagung diikuti dengan harga telur ayam yang ideal. Namun kenyataannya, harga telur ayam justru makin anjlok. Harga di Jabotabek misalnya, telur ayam dipatok berkisar antara Rp 18.000 sampai Rp 19.000 per kilogram. Bahkan di pasaran ada juga yang menjual dengan harga yang lebih murah. Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (HPP) yang lebih tinggi dibanding harga jual tersebut makin membuat peternak ayam petelur bangkrut.

Selama pandemi Covid 19, dampak sosial ekonomi dirasakan hampir seluruh masyarakat Indonesia, utamanya kelas menengah ke bawah. Pembatasan mobilitas, penutupan usaha, pemutusan kerja, menyebabkan daya beli masyarakat menurun tajam. Ada pula masyarakat yang hanya menggantungkan bantuan sosial dari pemerintah saking putus asanya menghadapi pandemi yang belum juga tampak hilal akhirnya ini.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur daya beli adalah inflasi. Inflasi atau kenaikan harga pada dasarnya terjadi karena adanya peningkatan permintaan yang menunjukkan konsumsi mengalami pertumbuhan. Data BPS mencatat, pada Agustus 2021 terjadi inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara itu kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,55 persen. Artinya, dibandingkan bulan Juli 2021, terjadi penurunan permintaan bahan makanan pada bulan Agustus 2021. Sudah pasti telur ayam menjadi salah satu komoditas dari kategori bahan makanan yang permintaannya menurun.

Daya beli masyarakat semakin tertekan sejalan dengan keputusan pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Demand terbesar telur ayam ada di rumah makan, restoran, dan mall. Terbatasnya jam operasional, terbatasnya kapasitas pengunjung, serta tutupnya warteg dan rumah makan turut andil dalam penurunan serapan telur ayam.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB
X