Refleksi Hari Santri: Tanamkan Nilai-Nilai Toleransi Dalam Jiwa

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 12:55 WIB
[Ilustrasi mengaji] Pesantren adalah Lembaga yang tak hanya menempa santri dengan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga pendidikan moral yang saat ini. (Ayobandung.com/Fuad Mutashim)
[Ilustrasi mengaji] Pesantren adalah Lembaga yang tak hanya menempa santri dengan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga pendidikan moral yang saat ini. (Ayobandung.com/Fuad Mutashim)

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang turut berkontribusi dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Lembaga yang tak hanya menempa santri dengan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga pendidikan moral yang saat ini dikenal dengan pendidikan karakter.

Dalam buku Goes to Pesantren, M. Dzanuryadi menjelaskan, di Indonesia, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua dan asli produk budaya Indonesia. Bahkan, istilah pesantren sudah lama dikenal.

Ada yang mengatakan, kalau bentuk dan pengajarannya sudah diperkenalkan dan mulai berkembang sebelum kedatangan Islam ke Indonesia.

Sebelum Indonesia merdeka, sistem dan pengajaran pesantren telah banyak diterapkan. Dan, ketika Belanda menjajah Indonesia, pesantren ikut berperan aktif dalam mengusir penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Bahkan, pesantren menjadi basis pergerakan santri pejuang dan telah banyak santri yang gugur di medan perjuangan demi membela dan mempertahankan kemerdekaan.

Bagaimanapun kondisi Negara Indonesia saat ini, pesantren akan tetap menyertai perjalanan bangsa ke mana pun ia pergi. Walaupun harus melawan terjangan arus globalisasi dan modernisasi, pesantren akan tetap kokoh sebagai warisan budaya unik yang pernah dimiliki bangsa ini.

Fungsi pesantren tidak akan lekang dimakan waktu. Ia akan terus bermetamorfosis menjadi lembaga yang tetap diminati masyarakat. Karena metode, sistem, kurikulum yang diajarkan pesantren tidak kalah hebat dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Ada banyak tokoh penting di negeri ini yang sedikit banyak telah merasakan asam garam dunia pesantren, seperti KH. Abdurrahman Wahid, Nurcholis Majid, budayawan Emha Ainun Najib, Mahfud MD, Salahudin Wahid, dan tokoh-tokoh lainnya.

Apa yang Santri Pelajari di Pesantren?

Ada banyak kegiatan di pesantren yang membuat para santri di dalamnya tidak sepi kegiatan. Berbagai aktivitas yang menambah pengetahuan telah disiapkan agar santri kelak bisa menjadi tokoh atau bagian penting ketika terjun ke masyarakat.

Dengan pelbagai ilmu yang dimiliki, santri tidak akan gagap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di masyarakat dengan perbagai persoalan yang kompleks.

Kegiatan santri yang paling utama adalah belajar, terutama belajar ilmu agama. Dari mulai pagi, setelah salat subuh sampai malam hari, santri akan terus dibekali dengan materi-materi ilmu agama. Ini biasanya yang lazim berlaku di pesantren salafi, yang lebih dominan dengan kegiatan-kegiatan mengaji kitab kuning. Sementara di pesantren modern, selain kegiatan mengaji kitab, pada siang hari mereka belajar formal sebagaimana di sekolah-sekolah umum.

Kegiatan yang tak lepas dari rutinitas santri sehari-hari adalah salat berjamaah dan tadarus Alquran. Dua kegiatan ini sudah menjadi rutinitas yang wajib dijalani. Santri senantiasa berjamaah saat melaksanakan salat lima waktu.

Demikian juga dengan tadarus Alquran. Tiap selesai salat wajib atau sebelum mengaji kitab, semua santri selalu membaca Alquran.

Untuk memotivasi semangat membaca Alquran, kadang-kadang santri saling berlomba untuk cepat selesai (khatam) Alquran. Tujuannya bukan untuk menentukan siapa yang menang atau kalah, apalagi agar dapat hadiah. Ini hanya salah satu cara yang sering dilakukan untuk memotivasi kegiatan tadarus Alquran.

Belajar Organisasi

Sebagaimana Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang lazim ada di sekolah-sekolah umum, di pesantren juga dikenalkan kegiatan organisasi yang bisa menjadi bekal santri dalam kegiatan berorganisasi ketika sudah berada di tengah masyarakat.

Tiap pesantren lazim mempunyai organisasi. Sebuah organisasi santri, biasanya dipimpin oleh seorang Rois atau Lurah Santri. Lurah Santri ini, bisa dipilih secara aklamasi, voting atau bahkan demokratis.

Bahkan, di pesantren-pesantren modern seperti Pondok Pesantren Darussalam Gontor (Ponorogo), Al-Amin Prenduan (Sumenep), Mathlabul Ulum Jambu (Sumenep), pemilihan Lurah Santri ini sudah layaknya seperti pemilihan presiden. Ada pencalonan, debat kandidat, kampanye, dan terakhir pencoblosan atau pemilihan secara langsung yang melibatkan para santri.

Pendidikan Toleransi

Selain kegiatan-kegiatan yang sifatnya formal, di pesantren juga diajarkan bagaimana menghargai perbedaan dan keberagaman. Di pesantren, santri diajarkan tentang kebersamaan. Kegiatan yang sifatnya berjamaah (salat, organisasi, muhadharah, dll) secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai kebersamaan.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan bahwa, nilai-nilai toleransi sebenarnya sudah melekat dalam jiwa para santri. Kuatnya nilai toleransi dalam jiwa santri ini disampaikan Zainut Tauhid Sa'adi kepada awak media sesaat sebelum dimulainya gelaran Santriversary dan Malam Puncak Peringatan Hari Santri 2020 di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama.

Menurutnya, nilai-nilai toleransi sudah melekat dalam jiwa para santri. Karena nilai toleransi, kebersamaan sudah terbangun di pondok-pondok pesantren lewat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara berjamaah seperti dalam acara diskusi, kepramukaan, atau kegiatan-kegiatan organisasi.

KH Zainut Tauhid Sa'adi menambahkan, di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Agama senantiasa terus berupaya memberikan semangat dan memberikan ruh perjuangan santri serta ruh santri sebagai agen perubahan. 

 

Peringatan hari santri di tengah pandemi Covid-19 memiliki makna sangat dalam. Artinya, bagaimana kita memaknai kehidupan ini tapi tidak boleh menyerah. Santri Sehat  Indonesia Kuat cukup membuat kita optimistis bahwa dengan keberadaan santri cukup membuat bangsa ini terjaga dengan baik.

Santri juga dididik untuk tidak egois. Harus bisa peduli dengan lingkungan sekitar. Juga diajarkan untuk menghargai perbedaan dan pendapat orang lain. Hal ini yang diterapkan oleh mendiang KH. Maimoen Zubair. Kiai yang akrab disapa Mbah Moen ini kerap mendidik santrinya untuk berijtihad dalam kerangka persatuan.

Menurutnya, ijtihad antara satu ulama dengan ulama lain jangan sampai mengakibatkan perselisihan dan perpecahan. Sebaliknya, justru harus semakin merekatkan hubungan satu dengan yang lain. Masing-masing menghargai pendapat yang didasarkan hujjah yang kuat dan benar (KH. Maimoen Zubair, 2021).

Kiprah Santri di Luar Negeri

Tak dapat dimungkiri bahwa selama ini santri juga banyak ikut andil dalam berbagai kegiatan di luar negeri. Terutama mereka yang kuliah di luar negeri seperi Malaysia, Singapura, Belanda, Inggris, Mesir, dan lainnya. mereka kerap menggelar forum yang mendiskusikan peran santri menghadapi globalisasi.

Kegiatan tersebut antara lain diskusi virtual yang digelar Yayasan Santri Mengglobal Nusantara bekerja sama dengan Farabi Institute, Komunitas Muslimah for Change, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) the United Kingdom dan PCINU Belanda. Kegiatan tersebut bertajuk Dakwah Santri: Ikhtiar Mewujudkan Moderasi.

Dito Alif Pratama, penanggungjawab acara sekaligus pendiri dari Yayasan Santri Mengglobal Nusantara menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya program ini sebagai ikhtiar reflektif kaum santri di seluruh dunia untuk memaknai santri sekaligus hari pahlawan.

“Sebagaimana para pahlawan telah berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, tugas santri sebagai penerus bangsa adalah dengan merawat dan meruwat Tanah Air. Dan salah satu bentuk ikhtiarnya adalah dengan menyemai nilai moderasi dan toleransi yang diajarkan di pesantren di banyak masyarakat di dunia,” katanya, sebagaimana dilansir NU Online (10 November 2020).

Baca Juga: Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

KH Ahmad Nurul Huda dalam paparannya menjelaskan, landasan dakwah santri di luar negeri harus didasari oleh dua hal penting. Pertama adalah semangat belajar dan mengajar. Kedua, semangat berdakwah di banyak wilayah untuk mencari keridhaan Allah.

Dirinya mengajak peserta diskusi online untuk meneladani semangat perjuangan pahlawan dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan. Dan semangat ini pula yang harus santri Indonesia teladani dalam momentum hari pahlawan.

Sementara itu, Munawir Aziz banyak menyoroti pentingnya kolaborasi santri Indonesia untuk merespons isu kontemprorer dan mewujudkan agenda strategis di kancah global.

Menurutnya, santri itu sebenarnya dilahirkan sebagai masyarakat global yang harus dibanggakan, pun mempunyai tanggungjawab global.

Pengurus NU yang tengah menempuh studi di Inggris tersebut berpesan agar santri bisa fokus kepada apa yang menjadi minat, keterampilan, dan kemampuan. Karena, kalau bisa fokus kepada keterampilan yang diminati, mereka bisa menjadi master dalam bidang masing-masing dan akan lebih bisa punya pengaruh di kemudian hari. [*]

Baca Juga: Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

 

Konten ini dibuat oleh Untung Wahyudi

Lulusan Ponpes Mathlabul Ulum, Jambu, Sumenep

Isi konten merupakan tanggung jawab penulis

Halaman:
1
2
3
4
5

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mempelajari Karakter Orang Melalu Kebiasannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB

Adopsi Spirit Doll: Antara Tren, Sugesti, dan Delusi

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:53 WIB

Rekor! Menlu AS Kunjungi 112 Negara

Selasa, 11 Januari 2022 | 15:15 WIB
X