Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB
[Ilustrasi Toekang tjoekoer, Barbier] Catch Me if You Can, film yang mungkin Anda pernah tonton, dibintangi dua aktor kawakan Leonardo DiCaprio dan Tom Hanks. (KITLV 36C73)
[Ilustrasi Toekang tjoekoer, Barbier] Catch Me if You Can, film yang mungkin Anda pernah tonton, dibintangi dua aktor kawakan Leonardo DiCaprio dan Tom Hanks. (KITLV 36C73)

Catch Me if You Can, film yang mungkin Anda pernah tonton, dibintangi dua aktor kawakan Leonardo DiCaprio dan Tom Hanks.

Disutradarai oleh Steven Spielberg, film itu diangkat dari kisah nyata seorang tukang tipu bernama Frank Abagnale, Jr. (Leonardo DiCaprio).

Seorang tukang tipu yang tak pernah bisa tertangkap.

Tak tanggung-tanggung si tukang tipu selalu mengaku sebagai pilot dan selalu berhasil mengelabui petugas keamanan, bahkan hingga sampai kabin pesawat.

Di dalam mendapatkan uang, Frank membuat dokumen-dokumen palsu hingga berhasil mencuri jutaan dolar. Carl Hanraty (Tom Hanks), petugas spesialis tukang tipu dari FBI pun takluk tak berkutik hingga akhirnya si tukang tipu dibiarkan saja, karena sejatinya ia bukan ingin uang melainkan hanya ingin dikejar-kejar saja.

Sekarang, izinkan penulis berseloroh, mungkin saja dulu Frank Abagnale  itu pernah membaca sebuah berita kriminal tentang tukang tipu di Tjimahi Tempo Doeloe, sehingga akhirnya terinspirasi untuk melakukan aksinya. Kabar aksi tipu-tipu tempo doeloe itu bahkan sampai di Eropa, di tangan orang-orang Breda, Belanda.

Tepatnya, kabar itu hadir pada koran De Bredasche Courant edisi Jumat 7 Mei 1937, dengan judul berita De Barbier-Waarzegger: Hij Gaf Niets Meer Om Geld, yang jika diartikan adalah Peramal-Tukang Cukur: Ia Tak Butuh Uang Lagi.

Kisahnya begini, tersebutlah seseorang bernama Acip alias Rasip yang sengaja pindah dari Buitenzorg ke Dessa Tjipageran, Tjimahi untuk mengadu nasib sebagai tukang cukur. Tapi setelah beberapa lama tinggal di Tjimahi, tampak penghasilannya tidak mencukupi.

Akhirnya ia pun memiliki ide untuk menjalani profesi rangkap. Selain sebagai tukang cukur ia pun menjelma sebagai tukang ramal yang sebetulnya ia tidak memiliki kompetensi di bidang ramal meramal itu. Tapi kebutuhan yang mendesak membuatnya tak punya pilihan lain.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB
X