Jalan Setapak di Distrik Jampang Kulon Awal Abad ke-19

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 08:52 WIB
Peta awal abad ke-19 berujudul D: Djampang Koelon, terdapat dalam dokumen F de Haan. (Arsip Nasional Republik Indonesia)
Peta awal abad ke-19 berujudul D: Djampang Koelon, terdapat dalam dokumen F de Haan. (Arsip Nasional Republik Indonesia)

Tujuh nama geografi setingkat kecamatan, yaitu: Cidadap, Cikepok, Cimanggu, Lengkong, Pangramesan, Panumbakan, dan Wala(u)ran. Dalam peta itu terdapat setingkat 35 desa, yaitu: Babakanjengkol, Babakanhaur, Bantarkalong, Bantarpeuteuy, Bojongsari, Cibatu, Cibodas, Cibuang (?), Cicuruk(g), Cidadapgirang, Cigadoh(g), Cijulang, Cijure(y), Cikondang, Cilalay, Cilangkap, Cimarincang, Cipeundeuy, Cipicung, Cipicung, Ciracap, Cirangkong, Ciranji, Cisalut (?), Citangelan, Darmawangi, Karangpandak, Kedung, Lebaksiu(h), Legoknyenang, Leuwigunung, Pabuaran, Pasirpanjang, Pipisan, dan Pondokuyah.

Dalam peta itu digambarkan pula penyebaran empat goa, yaitu: Guha Dahu, Guha Gadok(g), Guha Pandan, dan Guha Sikarang.

Nama geografi yang terdapat di sepanjang pantai, yang membatasi distrik Jampang Kulon ada 17, yaitu: Batununggul, Batupandan, De wyn kopeers baai, Genteng, Ancol, Tanjung Citiro(e)m, Tanjung Goameong, Tanjung Goasanca, Tanjung Karangbolang, Tanjung Karanggajah, Tanjung Karangheulang, Tanjung Kiara, Tanjung Pacoor (?), Tanjung Separan, dan Tanjung Sedong.

Ada lima kerucut gunung yang berupa pegunungan, bukit, dan gunung, yaitu: Pegunungan Kadokan, Pasir Nangka, Gunung Kiarajajar, Gunung Badak, dan Gunung Bebek (?).

42 tempat yang terdapat dalam peta ini sudah saling terhubung oleh jaringan jalan setapak, yang biasa dilalui masyarakat dalam menjalin hubungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Sangat mungkin, jalan-jalan yang sudah dirintis oleh para karuhun di Distrik Jampang Kulon pada masa lalu itulah yang menjadi jaringan jalan yang ada saat ini. Jaringan jalan berkembang mengikuti pembukaan perkebunan.

Jalan-jalan setapak yang ada kemudian diperlebar dan tingkatkan kualitasnya agar dapat dilalui pedati atau kendaraan untuk kepentingan pengangkutan hasil perkebunan yang terus berkembang ke berbagai daerah.

Karena nilai ekonomi yang tinggi dari perkebunan, maka pada awal abad ke-19 dibangunlah perkebunan-perkebunan di Sukabumi, di antaranya: perkebunan gutta perca, karet, kina, dan teh. 

Dua perkebunan yang menghasilkan teh dan gutta-percha, membuat Sukabumi menjadi sangat terkenal. Getah gutta-percha bagus sebagai bahan pelapis kabel dasar laut, pelapis bola golf, campuran gips untuk pembalut tulang, perawatan gigi, pembuatan gigi palsu, dan bahan pembuatan perlengkapan rumah.

Baca Juga: Sherlock Holmes Hindia Belanda, Beraksi di Tjimahi Tempo Doeloe

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X