Tawuran Pelajar Bukanlah Ajang Menunjukkan Keberanian

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:44 WIB
[Ilustrasi pelajar yang terlibat tawuran] Ada banyak tuduhan soal tawuran pelajar. Mulai dari asumsi dilakukan oleh pelajar dari sekolah kejuruan hingga ekonomi keluarga si pelajar. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)
[Ilustrasi pelajar yang terlibat tawuran] Ada banyak tuduhan soal tawuran pelajar. Mulai dari asumsi dilakukan oleh pelajar dari sekolah kejuruan hingga ekonomi keluarga si pelajar. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

Sepatutnya tawuran ini mendapat penanganan secara serius. Bukan hanya sekadar pernyataan sikap, sanksi dan perlakuan yang diterapkan terhadap pelaku dan institusi pendidikan pun seharusnya lebih tegas.

Dari Pernyataan Sikap hingga Fatwa Haram

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan pernyataan bahwa tawuran harus diberantas. Pernyataan ini terlontar dari Mendikbud di masa Mohammad Nuh. Ia menanggapi peristiwa tawuran yang mengakibatkan seorang pelajar tewas. Pelajar itu terkena sabetan clurit saat terjadi aksi tawuran di jalan Raya Kemang-Bogor, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, antara siswa SMK Wiyata Kharisma dengan SMK Menara Siswa Bogor (12/2/2014).

Majelis Ulama Islam (MUI) Kabupaten Lebak pada 2012 silam sudah mengeluarkan fatwa haram untuk tawuran. Mereka mengeluarkan fatwa mengharamkan tawuran terkait kematian beberapa pelajar di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Depok.

KH Syatibi Hambali, Ketua MUI Lebak mengatakan kekhawatiran akan tawuran yang berakibat saling bunuh membunuh. Aparat hukum harus bertindak tegas terhadap pelaku tawuran. Maka dari itu MUI Lebak mengeluarkan fatwa haram tawuran.

Sebelumnya, Ketua Bidang Fatwa MUI Ma`ruf Amin (sekarang Wakil Presiden) menyatakan tawuran haram hukumnya, bahkan para pelaku divonis akan masuk neraka. Pernyataan ini dikeluarkan pada 2011 silam untuk menyikapi tawuran tanpa alasan yang jelas dalam beberapa pekan terakhir di Jakarta. Seperti tawuran di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat.

Kasus terbaru belakangan ini, kita sudah disuguhkan lagi aksi-aksi tawuran di berbagai daerah. Tawuran yang melibatkan pelajar pun terjadi dan memakan korban jiwa. Seperti di Kota Bogor, seorang pelajar meninggal akibat “dibunuh” pada 6 Oktober 2021 lalu.

Baca Juga: Kasus Perundungan Siswi di Sarijadi: Pemerintah Turun Tangan

Dinas Pendidikan Kota Bogor diinformasikan memberikan sanksi yaitu, diberhentikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas kedua sekolah yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Lebih lanjut, Walikota Bogor, Bima Arya memaparkan akan berkonsultasi dengan Gubernur Jawa Barat untuk sistematis merumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk mencegah kekerasan yang berujung hilangnya nyawa terulang kembali.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X