Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB
[Ilustrasi Alat tulis naskah kuno/pisau pengropak] Misteri Perang Bubat masih akan dibahas dalam artikel ini.  Misteri Perang Bubat masih akan dibahas dalam artikel ini.  Kolofon merupakan elemen yang biasanya berisi titimangsa penulisan naskah. (Wikimedia Commons (CC))
[Ilustrasi Alat tulis naskah kuno/pisau pengropak] Misteri Perang Bubat masih akan dibahas dalam artikel ini. Misteri Perang Bubat masih akan dibahas dalam artikel ini. Kolofon merupakan elemen yang biasanya berisi titimangsa penulisan naskah. (Wikimedia Commons (CC))

Misteri Perang Bubat masih akan dibahas dalam artikel ini. 

Seperti yang penulis pernah janjikan, saat ini penulis akan menelusuri kolofon (bagian naskah yang berisi titimangsa, penulis, dan tempat) salah satu naskah dari lima daftar naskah yang menginformasikan peristiwa di Bubat berdasarkan Dr. Hasan Djafar.

Naskah itu adalah Carita Parahyangan, sementara untuk kolofon keempat naskah lainnya telah penulis sajikan pada tulisan yang lalu (cek di sini).

Di sini penulis telah menelusuri penelitian-penelitian terdahulu untuk melacak kolofonnya. Dan penulis berhasil mendapatkan satu penelitian keberadaan awal dari naskah Carita Parahyangan yang dijadikan pembanding untuk Prasasti Kebantenan; tiga buah penelitian pada Prasasti Batutulis Bogor yang di dalamnya naskah Carita Parahyangan dijadikan sebagai bahan pembanding; dan hasil-hasil penelitian khusus filologi pada Carita Parahyangan.

Baca Juga: Misteri Perang Bubat: Bujangga Manik Ngalalar ka Bubat

  1. Penelitian tahun 1867 (K.F. Holle)

Informasi awal Carita Parahyanyan ada di dalam Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde XVI terbitan tahun 1867 di Batavia oleh Lange & Co. dan di ‘s Hage oleh M. Nijhoff. Di sana K.F. Holle menulis beberapa artikel yang salah satunya membahas penelitian pada lima buah prasasti tembaga (Vijf Kopperen Platjes) yang ditemukan oleh Raden Saleh di kampung Kebantenan. Di sana Holle membandingkan prasasti-prasasti tembaga tersebut dengan sebuah naskah yang belum dinamai, hanya disebut sebagai MS (manuscript) yang menceritakan sejarah Parahyangan. Ia mendapatkannya dari Bupati Galuh. Sementara perkiraan usianya adalah 300 tahun. Informasi ini dapat dilihat pada halaman 560 yaitu:

Later heeft de Regent van Galoeh een lontar- MS, aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen aangeboden, handelende o. a. over de geschiedenis der "Parahyangan”, welk MS ik een groote 300 jaar oud schat,...

Yang terjemahannya adalah:

Kemudian Bupati Galoeh menyerahkan sebuah lontar MS kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia), yang antara lain membahas tentang sejarah "Parahyangan", yang menurut perkiraan saya MS tersebut berusia 300 tahun,...

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB

KurMer dalam Falsafah Jawa: Mamayu Hayuning Bawana

Jumat, 9 September 2022 | 16:25 WIB

Raja Surakarta Kunjungi Hotel Isola

Jumat, 9 September 2022 | 15:44 WIB

Cinambo Semula Berupa Dasar Sungai

Kamis, 8 September 2022 | 21:32 WIB
X