Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

- Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB
[Ilustrasi orang papua] Aroma budaya di suku pedalaman Papua, tentu mengartikan kemerdekaan dengan cara budaya mereka. Karena sejatinya cerita yang berisi pesan edukatif, komedi, sosial, kritik terhadap pemerintah adalah bagian segmen yang tak terpisahkan dalam sinema 'Di Timur Matahari'. (Pixabay/Samathey )
[Ilustrasi orang papua] Aroma budaya di suku pedalaman Papua, tentu mengartikan kemerdekaan dengan cara budaya mereka. Karena sejatinya cerita yang berisi pesan edukatif, komedi, sosial, kritik terhadap pemerintah adalah bagian segmen yang tak terpisahkan dalam sinema 'Di Timur Matahari'. (Pixabay/Samathey )

Sering kita terjebak dengan makna kata “kemerdekaan”. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, arti kata ini menjadi sakral hanya pada bulan Agustus.

Tetapi kalau kita mau jujur, kata ini tidak mengenal dimensi waktu. Pernahkah kita berpikir, apakah semua orang di negeri ini sudah menikmati arti kemerdekaan!?

Hal sederhana dalam konteks lokal, adalah kita sering lupa “memerdekakan pikiran” kita sendiri. Terkungkung dalam kebebasan maya, yang mengekang sumber ide-ide kreatif karena sangat bergantung pada media komunikasi yang berbasis jaringan internet.

Bayangkan, betapa banyak isu-isu sosial yang terbungkus hoaks, menjadi konsumsi nalar kita.

Untuk menghubungkan judul di atas, penulis mencoba mengamati film “Denias, Senandung di Atas Awan” dan “Di Timur Matahari”. Sebuah sinema yang berlatar-belakang Tanah Papua. Penulis sadar, tidak sepenuhnya bisa menangkap karakter sinema tersebut.

Film yang mengangkat peradaban maju Suku Papua. Seketika itu terlintas dalam pikiran penulis, di sebuah pedalaman papua, ada yang melaksanakan peringatan HUT Kemerdekaan dengan mengibarkan sang saka Merah-Putih menggunakan pakaian adat papua (baca: dengan koteka).

Hal semacam ini, jika kita berbicara tentang adat-istiadat, maka dalam konteks kacamata budaya, bukanlah sebuah keanehan atau sebuah kisah jenaka yang harus dipertentangkan dalam debat publik. Sangat tidak mungkin kita meninggalkan esensi budaya.

Ini menjadi rekam jejak peradaban, yang kenyataannya memang harus kita lestarikan.

Persoalan yang sering kita hadapi, karena kita belum mampu untuk menerima perbedaan etnis dan/atau rasisme, hingga seakan rasa nasionalisme itu hanya menjadi milik “kelompok modernisasi”.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB

Para Pejabat Cicalengka Tahun 1871-1923

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:02 WIB
X