Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
[Ilustrasi masjid] Di negeri kita, kesenjangan bukan hanya antara si kaya dan si miskin, atau pejabat dan rakyat, tetapi juga terjadi antara masjid dan toilet. (Ayobandung.com/Robby Fathan/Magang)
[Ilustrasi masjid] Di negeri kita, kesenjangan bukan hanya antara si kaya dan si miskin, atau pejabat dan rakyat, tetapi juga terjadi antara masjid dan toilet. (Ayobandung.com/Robby Fathan/Magang)

Di negeri kita, kesenjangan bukan hanya terjadi antara si kaya dan si miskin, atau pejabat dan rakyat, tetapi juga terjadi antara masjid dan toiletnya.

Di sekitar kita masih banyak ditemui bangunan masjid megah dan indah sementara toiletnya jorok dan memprihatinkan.

Catatan soal kesenjangan inilah yang kemudian menjadi “oleh-oleh” paling mengesankan ketika beberapa hari lalu saya dengan rombongan bersilaturahim ke rumah saudara di kota Banjar, Jawa Barat. Yakni, tentang beberapa masjid dan musala yang sempat kami singgahi untuk menjalankan salat.

Setidaknya ada dua masjid yang begitu mengesankan. Pertama, masjid di area tempat tujuan. Meski berada di area perkampungan, masjid tersebut cukup megah. Ruang utama, teras, dan juga halamannya luas, terlihat terawat, dan terjaga kebersihannya.

Namun ketika kebelakang saya disuguhi bangunan toilet yang berkebalikan dengan masjidnya. Lantai sangat kotor, pintu rusak tanpa bergerendel, serta tidak ada tempat menaruh baju atau celana. Kesan jorok memuncak ketika saya membuka keran. Air sangat keruh. Benar-benar seperti toilet yang sudah lama tidak dipakai. Atau jangan-jangan memang sudah tidak terpakai, pikirku. Kondisi serupa juga ditemui oleh beberapa teman robongan saya yang masuk di kamar toilet berbeda. Padahal, belakangan saya tahu, air yang digunakan untuk berwudu sangat jernih. Maklum di situ area pegunungan, yang konon tidak pernah kekeringan, sekemarau apa pun.

Karena sudah kadung buang air kecil, mau tidak mau saya tetap bersuci dengan air tersebut, tentu dengan menahan rasa jijik dan keraguan akan kesucian air tersebut.

Kesenjangan serupa juga kami jumpai saat pulang dan singgah di sebuah masjid pinggir jalan raya. Masjid jami’ tingkat kecamatan itu tentu jauh megah dibanding dengan masjid kampung di atas. Dari segi apa saja tentu lebih baik dan lebih terawat. Desainnya pun lebih kekinian; kubah besar dengan menara-menara menjulang di bagian pojok atap. Pintu masuk ruang utama pun tinggi dan besar dengan daun pintu dari kayu jati tebal.

Baca Juga: Film Squid Game dari Kacamata Sosiologi: Teori Kerumunan dan Kepanikan Massal

Sayang, lagi-lagi ketika saya dan rombongan menengok ke toilet menemukan kondisi yang berkebalikan dengan kondisi masjid. Kekokohan pintu masjid tersebut tidak sebanding dengan pintu toiletnya. Semua daun pintu toilet khusus pria tidak bergerendel. Daun pintu berbahan fiber tersebut tidak bisa tertutup rapat, menyisakan celah dan bisa diintip dari luar, bahkan bisa melebar sendiri. Siapa pun yang sedang buang air kecil misalnya dijamin tidak nyamam.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pendidikan Islam Melahirkan SDM Unggul dan Berkualitas

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:24 WIB

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X