Sherlock Holmes Hindia Belanda, Beraksi di Tjimahi Tempo Doeloe

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:35 WIB
Alun-alun Cimahi Tempo Doeloe. Sherlock Holmes versi Hindia Belanda pernah beraksi membongkar kasus pembunuhan sulit di Tjimahi Tempo Doeloe, tepatnya di Dessa Tjpageran. (KITLV No. 1405852)
Alun-alun Cimahi Tempo Doeloe. Sherlock Holmes versi Hindia Belanda pernah beraksi membongkar kasus pembunuhan sulit di Tjimahi Tempo Doeloe, tepatnya di Dessa Tjpageran. (KITLV No. 1405852)

Inspektur polisi tersebut yang bernama Logeman kemudian memerintahkan beberapa detektif untuk mencatat dan mengumpulkan keterangan dari massa yang berkerumun itu. Dan kemudian muncullah titik terang karena dalam waktu satu jam dapat diketahui bahwa nama korban adalah Rukmanta, penduduk Kampung Ujung Berung Bandung.

Ia telah tiba di Cimahi pada malam sebelumnya dengan ditemani dua orang ronggeng dari Bandung yang kemudian kedua ronggeng tersebut diperiksa. Menurut salah satu ronggeng, ada seorang pria (diduga pelaku utama) telah terlihat bersama dengan korban beberapa jam sebelum pembunuhan, dan kemudian pria tersebut bergegas ke Cianjur dengan jas dan juga tas milik korban. Penyidikan pun berlanjut hingga ke Cianjur untuk mengejar tersangka yang buron.

Sementara akar pembunuhan tersebut diduga akibat urusan memperebutkan wanita.

Itulah kurang lebih isi berita terkait peristiwa pembunuhan dari koran Preangerbode edisi Sabtu 22 September 1917 yang menyisakan misteri terkait tersangka yang buron ke Cianjur.

Kabar Perkembangan kasus di dalam koran Preangerbode edisi Senin 1 Oktober 1917

Seperti layaknya Sherlock Holmes, polisi dan para detektifnya saat itu tidak menyerah. Kasus tetap berjalan, penyelidikan tetap dilakukan. Hingga akhirnya kasus pun terpecahkan. Si pembunuh pun tertangkap. Kabar gembira ini muncul di koran yang sama yaitu Preangerbode edisi Senin 1 Oktober 1917 dengan judul berita De moord te Tjimahi. Isi beritanya kurang lebih berikut ini.

Ketika Agus, sang pelaku utama pembunuhan Rukmanta, tiba di Tjimahi, banyak orang sudah berkumpul di stasiun dan juga di luar stasiun. Tetapi ketika si pembunuh yang dikawal polisi Tjimahi tersebut turun dari kereta dan dibawa keluar stasiun, teriakan dan sorak-sorai massa pun pecah. Massa mendesak dan mencoba merebut Agus dari tangan polisi. Sehingga tongkat pemukul pun terpaksa digunakan untuk menghalau massa. Untungnya tiga orang polisi Eropa (Inspektur polisi dan 2 petugas polisi) hadir. Jika mereka tidak ada maka si pembunuh pasti akan ditangkap oleh massa. Kemudian Agus cepat-cepat dimasukkan ke dalam sado, para polisi melompat masuk, kendaraan pun melaju, yang diikuti oleh kerumunan massa yang geram dan penasaran.

Di alun-alun di depan rumah wedana, setidaknya hadir seribu orang massa, termasuk kerabat dan kenalan korban. Kemudian "hiruk pikuk" pun langsung dimulai. Massa merangsek tidak hanya ke halaman rumah wedana, tetapi beberapa orang bahkan masuk ke pendopo. Tidak ada pot bunga yang dibiarkan utuh di halaman, semuanya hancur berserakan. Seperti layaknya peristiwa pemberontakan. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat, setelah petugas keamanan dengan tongkat pemukul berhasil menenangkan massa.

Namun, mereka semua tidak membubarkan diri. Semuanya ingin melihat tampang si pembunuh. Berbagai macam teriakan seperti "suruh berdiri" dan "kasih lihat" bergema di mana-mana, sehingga untuk menenangkan massa, Agus diperlihatkan kepada mereka. Tidak ada pemandangan yang lebih menarik bagi masa selain memandang wajah tersangka pembunuh itu.

Agus berprofesi sebagai tukang sapu. Berdasarkan hasil penyelidikan dan informasi dari mata-mata polisi, Agus telah direkrut sebagai kuli kontrak di Bandung dengan nama alias yaitu Sukanta. Diketahui ia hendak berangkat ke Batavia yang kemudian berniat kabur dengan kapal laut. Pada saat Agus alias Sukanta tiba di Batavia, polisi kemudian bergegas mengejarnya, karena kapal akan berangkat keesokan harinya. Polisi Cimahi, bersama dengan saudara lelaki korban dan seorang "ronggeng", yang menjadi pemicu segalanya, mengejar ke Batavia dan di sana Agus ditangkap atas keterangan dari wanita ronggeng itu.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X