Evergrande CS Membuat China Bangkrut?

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:00 WIB
Mulanya Evergrande, lalu Fantasia, dan SINIC. Tiga perusahaan properti yang gagal membayar kewajibannya. China pun terancam bangkrut. (Pixabay/Gerd Altmann)
Mulanya Evergrande, lalu Fantasia, dan SINIC. Tiga perusahaan properti yang gagal membayar kewajibannya. China pun terancam bangkrut. (Pixabay/Gerd Altmann)

Mulanya Evergrande, lalu Fantasia, dan SINIC. Tiga perusahaan properti yang gagal membayar kewajibannya. Ratusan bahkan ribuan nasabah berdemo menuntut haknya.

Tak pelak, berita negatif seakan terus mengalir dari China

Belum usai cerita itu. Muncul produsen kamera dan laptop kekurangan chip. Pengusaha China ingin membeli mesin EUV Lithography buatan Belanda, namun gagal lantaran ada komponen bikinan AS yang dilarang dikirim ke China

Raksasa Korea Selatan Samsung. Toshiba. Supermarket Korea Selatan dan dua perusahaan keluar dari China. Pindah ke Vietnam, Indonesia serta pulang kampung. Dampaknya ribuan di-PHK.

Cerita diperburuk dengan krisis energi karena pengetatan penggunaan batubara sebagai sumber daya. Pemadaman listrik terjadi di banyak kota.

Perselisihan dengan Australia menyebabkan impor bijih besi berkurang hingga mengganggu industri manufaktur dan konstruksi. Citigroup Inc. JP Morgan Chase &Co serta Bank of America Corp. membantah telah memberi langsung pinjaman kepada Evergrande.

Kenapa Evergrande  

Evergrande berutang obligasi kepada perbankan dan lembaga keuangan bukan bank di dalam dan di luar negeri. Belum membayar gaji buruh. Belum membayar kewajiban kepada para pemasok dan sebagainya. Data setiap hari bertambah. Jumlah tenaga yang terpengaruh meningkat. Bukan lagi puluhan ribu.   

Evergrande mengulangi sejarah kebangkrutan perusahaan yakni tidak fokus pada satu bidang usaha. Bayangkan, Evergrande punya sedikitnya 798 proyek di 234 kota di 31 provinsi di seluruh China. Selain itu membangun industri kendaraan listrik, memiliki lembaga keuangan, bisnis perawatan kesehatan, obyek pariwisata budaya dan kesebelasan Guangzhou.

Hampir semua lini bisnisnya itu dibiayai utang dengan cara menerbitkan obligasi atau surat utang lain. Khusus calon pembeli  properti,  terlebih dahulu dimintai uang panjar disertai cicilan biaya pembelian. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB
X