Misi Utusan Kesultanan Banten kepada Raja Inggris Tahun 1682: Untuk Pembelian Kesenjataan

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 20:05 WIB
Duta utusan Kesultanan Banten, Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana kepada Raja Inggris tahun 1682.  (The British Museum (Museum number 1849,0512.918))
Duta utusan Kesultanan Banten, Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana kepada Raja Inggris tahun 1682. (The British Museum (Museum number 1849,0512.918))

 

Misi utusan Kesultanan Banten kepada Raja Inggris pada tahun 1682 berkaitan dengan pembelian kesenjataan.

33 orang dari Kesultanan Banten itu menempuh pelayaran Banten-London selama lima bulan, melewati Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Perjalanan yang sulit dan berbahaya, sehingga Sultan Banten Abu Nashar Abdul Qahar, menugaskan dua orang utusan. Duta besar utama bernama Kyai Ngabehi Naya Wipraya, dan yang kedua bernama Kyai Ngabehi Jaya Sedana, yang akan menggantikan duta besar utama bila meninggal dalam pelayaran, agar misi utama kesultanan dapat terus berlangsung.

Kedua orang duta itu ditambah 31 orang kru yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dalam pelayaran pulang-pergi selama 10 bulan. Selama tiga setengah bulan mereka menjadi tamu Raja Inggris, Charles II, di Istana Windsor.

Rombongan berangkat pada tanggal 10 November 1681 menggunakan kapal East India Company yang bernama New London. Kapal layar itu tiba dengan selamat di pelabuhan di Inggris. Dua orang utusan itu selain membawa pesan dari Kerajaan Surosuwan, juga membawa cenderamata dari batu permata berukuran besar sebanyak 112 butir, permata berukuran sedang 478 butir, dan permata berukuran kecil 1.167 butir. Keseluruhannya 1.757 butir permata dengan berat 1.088 qirat.

Dalam catatan Fruin Mees (1683) menuliskan, kedua duta dan rombongan membawa persembahan berupa 200 karung lada, perhiasan permata dan intan, serta emas berukir burung merak. Fruin menemukan catatan harian interpreter kedua utusan Kesultanan Banten selama di Inggris dalam Daghregisters tahun 1683, lalu menerbitkannya dengan judul Een Bantamsch Gezantschap naar Engeland 1682 (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap, I924), kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Purbakala dengan judul A Mission of Two Ambassador from Bantam to London 1682.

Misi kedua orang utusan Kesultanan Banten itu tertulis dengan gamblang dalam surat panjang dari Sultan Abu Nashar Abdul Qahar kepada Raja Inggris (Titik Pudjiastuti, Perang, Dagang, Persahabatan, Surat-surat Sultan Banten, Buku Obor, 2007).

Baca Juga: Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB

Para Pejabat Cicalengka Tahun 1871-1923

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:02 WIB
X