Misteri Perang Bubat: Hanya Bersumber pada Naskah Terbatas

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 14:41 WIB
Alun-Alun Bubat diduga terletak di sebelah utara ibu kota Trowulan Majapahit, mungkin di suatu tempat di dekat gapura Wringin Lawang atau candi Brahu, menurut Nagarakretagama. (Wikimedia Commons)
Alun-Alun Bubat diduga terletak di sebelah utara ibu kota Trowulan Majapahit, mungkin di suatu tempat di dekat gapura Wringin Lawang atau candi Brahu, menurut Nagarakretagama. (Wikimedia Commons)

Sumber-sumber terkait Perang Bubat hanyalah terbatas pada sumber yang berupa naskah atau manuscript dan tidak ada berdasarkan prasasti.

Pada tulisan sebelumnya (cek di sini) penulis telah mengupas sebuah hal menarik terkait Bujangga Manik yang tidak membahas peristiwa Bubat saat lewat ke wilayah Bubat.

Kemudian pada bagian ke-dua ini penulis akan membahas mengenai informasi terkait naskah-naskah apa saja yang membahas Pasuṇḍa-Bubat.  

Informasi naskah-naskah tersebut akan penulis sajikan yang pertama adalah naskah-naskah Peristiwa Bubat menurut tokoh ahli epigrafi sekaligus arkeolog senior yaitu Dr. Hasan Djafar.

Kemudian setelah itu adalah informasi mengenai naskah-naskah karya Pangeran Wangsakerta yang mengandung informasi terkait Perang Bubat berdasarkan buku Sundakala karya Ayatrohaedi, kemudian buku Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta yang disusun oleh Edi S. Ekadjati, serta buku Yuganing Rajakawasa karya Drs. Yoseph Iskandar.

Naskah-naskah Perang Bubat menurut Dr. Hasan Djafar

Berdasarkan makalah yang ditulis oleh Dr. Hasan Djafar dengan judul Perang Bubat (Pasuṇḍa-Bubat) Sumber dan Permasalahan di Sekitarnya yang disajikan di dalam Seminar Nasional “Pasuṇḍa-Bubat” di Bandung tanggal 27 Maret 2014, sumber-sumber terkait Perang Bubat hanyalah terbatas pada sumber yang berupa naskah atau manuscript sementara berdasarkan prasasti tidak ada (dari sekian banyak prasasti tidak ada yang menyebutkan apalagi yang menguraikannya).

Kemudian, masih di dalam makalah tersebut, Dr. Hasan Djafar menyebutkan pula naskah-naskah yang mengandung kabar terkait peristiwa tersebut yaitu ada di dalam empat kelompok naskah di antaranya yaitu Kidung Sunda atau Kidung Sundayana, Tatwa Sunda, Serat Pararaton, dan Carita Parahiyangan.

Untuk naskah Kidung Sunda telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh C.C. Berg. Kemudian Kidung Sundayana (Kidung Sunda C) hanya berupa alih aksara saja beserta catatan-catatan, yang juga bukunya masih dikarang oleh C.C. Berg.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB
X