Mengejar Angan Fiksi para Komikus

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 14:22 WIB
[Ilustrasi komikus] Komikus juga punya angan-angan sebagai subjektivitas pemikiran dalam kerangka pembangunan karya seni anak bangsa. (Pixabay/Tania Van den Berghen )
[Ilustrasi komikus] Komikus juga punya angan-angan sebagai subjektivitas pemikiran dalam kerangka pembangunan karya seni anak bangsa. (Pixabay/Tania Van den Berghen )

Komikus juga punya angan-angan sebagai subjektivitas pemikiran dalam kerangka pembangunan karya seni anak bangsa.

Kita tidak sadar, memasuki era digital sangat sarat dengan animasi pikiran yang sesungguhnya rekaan fiksi manusia. Tetapi tidak jarang, karya yang dihasilkan menjadi sebuah karya yang diakui secara ilmiah.

Mengulik keberadaan cerita fiksi berupa komik, adalah sebuah perjalanan ratusan tahun yang menjadi buku cerita hiburan, khususnya pada beberapa dekade belakangan ini. Begitu segar ingatan kita, ketika komik bergambar yang menjadi idola ribuan bahkan jutaan pembaca, seperti “Kho Ping Hoo”. Buku ini menjadi komik yang melegenda.

Bagaimana dengan komik “The Witch’s Heart”, yang kini mendunia dan diterjemahkan ke dalam 6 bahasa? Dari judulnya, kita mungkin beranggapan ditulis oleh penulis asing. Tetapi ternyata ditulis oleh seorang komikus muda asal Banyumas. Nama Maria Rengganis atau sering dipanggil Megan, belum banyak yang mengenalnya. Tetapi siapa yang menyangka kalau karyanya lewat “The Witch’s Heart” menuai jutaan penggemar di mancanegara.

Di era digital seperti saat ini, improvisasi pikiran dapat terjangkau dimana pun. The Witch’s Heart yang diartikan Hati Sang Penyihir, dipublikasikan lewat sebuah kanal line setidaknya telah dilihat sekitar 3,4 juta kali dan telah difavoritkan 113.200 orang lebih.karya Megan juga mendapat rating bintang 9,86. Ini tentunya semakin hari makin bertambah.

Terlepas dari apa yang diraih oleh seorang Megan, ini tentunya menjadi prestasi positif dalam perkembangan seni hiburan lewat komik. Trending positif bagi pengembangan dunia penulisan di Indonesia, makin meningkatnya persaingan dan jadi seleksi alam karya fiksi lewat jalur media digital.

Jika perbincangan lewat dunia maya diambil dari sisi pemikiran positif, tentunya tidak hanya seorang Megan yang mampu berimajinasi. Masih banyak komikus serta novelis yang memilih lewat jalur media digital, ini mungkin karena perubahan era telah terjadi revolusi pikiran.

Stigma lama, yang sering mengidentikkan para komikus dan penulis fiksi lainnya, sebagai orang yang terjebak dalam keterasingan pemikiran, hingga kadang disebut sebagai pengkhayal, adalah pandangan-pandangan skeptis (keraguan), yang umumnya kurang memiliki kreativitas pemikiran. Ini kadang dihubungkan dengan kontemplasi pemikiran. Perubahan sosial yang begitu cepat, juga memacu ruang-ruang yang tidak terjangkau menjadi wujud nyata.

Yasmine Putri, komikus asal Indonesia. (Istimewa)

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X