Merdeka Belajar dan Kemerdekaan Berpikir

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 06:00 WIB
[Ilustrasi belajar di sekolah] Merdeka Belajar termasuk program pemerintah yang butuh perjuangan sangat panjang untuk merealisasikannya.  (Ayobandung.com/Kavin Faza)
[Ilustrasi belajar di sekolah] Merdeka Belajar termasuk program pemerintah yang butuh perjuangan sangat panjang untuk merealisasikannya. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Merdeka Belajar termasuk program pemerintah yang butuh perjuangan sangat panjang untuk merealisasikannya.

Perlu adaptasi yang tidak sebentar, mengingat realitas kegiatan belajar-mengajar yang ada selama ini, para guru masih lebih nyaman mengajar di dalam kelas dengan metode ceramah dan selanjutnya memberikan tugas kepada murid-muridnya.

Sementara program Merdeka Belajar justru memberikan kemerdekaan berpikir terkait metode yang digunakan para guru saat mengajar. Misalnya, mengadakan pembelajaran di luar kelas.

Berdasarkan catatan yang saya peroleh di laman Wikipedia, Merdeka Belajar slogan Sekolah Cikal yang dipinjam sebagai program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim. Menurutnya, esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa adanya proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Merdeka Belajar menawarkan perubahan sistem pengajaran, dari yang semula di dalam (ruang) kelas, menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem peringkat (ranking) yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orangtua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Program Merdeka Belajar menjadi sebuah upaya untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, agar dapat semakin maju, berkembang dan bisa menjawab tuntuan zaman yang semakin mengalami perubahan secara pesat. Perubahan zaman inilah seyogianya membuat para pendidik dan pemangku kebijakan untuk mengubah metode dan teori pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan agar semakin selaras dengan karakter para peserta didiknya.

Bicara tentang teori pembelajaran, Agus N. Cahyo, dalam buku Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler, menjelaskan bahwa teori pembelajaran terus mengalami perbaikan dan pengembangan seiring perubahan zaman dan permasalahan di dalam dunia pendidikan itu sendiri. Kalau dahulu kita mengenal teori pembelajaran behavioristik sebagai teori pembelajaran klasik, maka saat ini kita mengenal teori pembelajaran kontemporer. Menurut Rifai dan Catharina (2009), pembelajaran teori kontemporer ini adalah pembelajaran yang mengacu dan dikembangkan pada teori konstruktivisme. Dengan kata lain, teori belajar konstruktivisme merupakan teori pembelajaran kontemporer yang saat ini tengah dipraktikkan oleh dunia pendidikan di dunia.

Membuka Pintu Kolaborasi

Merujuk keterangan Kemdikbud.go.id (10 Agustus 2021) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan saat ini program-program Merdeka Belajar telah membuka pintu-pintu kolaborasi lintas sekolah dan lintas lembaga.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB

Para Pejabat Cicalengka Tahun 1871-1923

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:02 WIB
X