Pansos Demi Cuan?

- Selasa, 28 September 2021 | 08:00 WIB
[Ilustrasi selfie untuk konten media sosial] Pansos, kosakata berkonotasi negatif, ditujukan kepada orang-orang yang kerap mencari perhatian dengan cara yang kurang bahkan tidak baik. (Pixabay/Pexels)
[Ilustrasi selfie untuk konten media sosial] Pansos, kosakata berkonotasi negatif, ditujukan kepada orang-orang yang kerap mencari perhatian dengan cara yang kurang bahkan tidak baik. (Pixabay/Pexels)

Kita tentu kerap mendengar istilah "pansos" yang merupakan singkatan dari panjat sosial.

Kosakata ini umumnya berkonotasi negatif dan ditujukan kepada orang-orang yang kerap mencari perhatian dengan cara yang kurang bahkan tidak baik, dan bisa merugikan orang lain.

Perihal definisi atau arti pansos secara lebih gamblang, saya menemukan keterangan menarik di Lektur.id, bahwa arti pansos menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kata dalam bahasa gaul yang merupakan akronim dari panjat sosial. Suatu istilah untuk menyatakan perbuatan seseorang yang memanfaatkan orang lain, barang, ataupun peristiwa untuk mendapatkan perhatian, keuntungan, ataupun untuk mengangkat status sosial.

Bila kita teliti, ada begitu banyak perilaku pansos yang bertebaran di dunia maya seperti media sosial. Misalnya ketika ada publik figur atau artis yang sedang naik daun dan menjadi sorotan publik, biasanya akan bermunculan orang-orang yang ingin pansos demi meraih keuntungan darinya. Sayangnya mereka meraih keuntungan dengan cara-cara picik, licik, dan menjijikkan.

Seperti yang terjadi belum lama ini. Ada seseorang yang namanya langsung melambung gara-gara mengunggah video singkat berisi hinaan, meremehkan, bahkan melakukan body shaming kepada seorang artis yang sedang naik daun dan memiliki banyak penggemar sekaligus haters. Apa yang dilakukannya sontak menuai cibiran dan komentar pedas dari warganet, khususnya para penggemar berat artis  yang dijelek-jelekkan tersebut. Namanya pun melambung, menjadi sorotan dan perbincangan banyak orang. Sayangnya bukan perbincangan positif, melainkan dibicarakan karena keburukan perilakunya yang mencerminkan bukan orang yang berpendidikan.

Bila dianalisis, semakin ramai orang membicarakan perilaku pansosnya, dia akan semakin senang karena biasanya dia akan kebanjiran endorse atau iklan dari para pelaku bisnis. Ya, disadari atau tidak, perilaku pansos saat ini seolah telah menjadi semacam tren (yang buruk) di kalangan sebagian orang untuk mendapatkan cuan atau pundi-pundi rupiah.

Lantas, bagaimana sikap atau cara kita dalam menyikapi orang-orang yang gemar berperilaku pansos di jagat media sosial? Menurut saya, tak perlu kita terpengaruh dengan postingan-postingannya. Abaikan saja. Jangan pedulikan dan tak perlu kita ikutan berkomentar atau menge-share berita tentangnya.

Semakin banyak orang yang mengabaikan dan tak peduli dengan perilakunya yang lebay, maka namanya pun akan tenggelam dan mereka tak mendapatkan keuntungan apa-apa, justru kerugian dan dosa yang mereka hasilkan karena telah berbuat jahat menghina dan meremehkan orang lain.

Semoga kita semua dapat terhindar dari perilaku pansos yang kelak merugikan diri sendiri dan orang lain. Tak perlu kita tergoda dengan orang-orang yang memiliki uang berlimpah, hasil dari perilaku pansosnya. Buat apa coba, memiliki banyak cuan tapi tidak berkah karena dihasilkan dari cara-cara yang tidak baik bahkan dilarang dalam ajaran agama? Wallahu a'lam bish-shawaab. [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB
X