Selamatkan Remaja dari Perilaku Kejahatan Seksual

- Senin, 27 September 2021 | 12:46 WIB
[Ilustrasi kekerasan seksual] Bebasnya pedangdut Saiful Jamil (SJ) membuat heboh dan menimbulkan kontroversi, karena media membuat siaran khusus atas kebebasan SJ. (Pixabay/Victoria_Borodinova )
[Ilustrasi kekerasan seksual] Bebasnya pedangdut Saiful Jamil (SJ) membuat heboh dan menimbulkan kontroversi, karena media membuat siaran khusus atas kebebasan SJ. (Pixabay/Victoria_Borodinova )

Bebasnya pedangdut Saiful Jamil (SJ) membuat heboh dan menimbulkan kontroversi. Hal ini karena, media membuat siaran khusus atas kebebasan SJ karena kasus pelecehan seksual yang pernah diperbuatnya.

Tak sedikit yang mengecam glorifikasi atau penyambutan berlebihan mantan narapidana kasus pelecehan seksual tersebut.

Dalam penyambutannya, SJ dikalungi bunga dan diarak mengendarai mobil mewah  seolah dianggap sebagai pahlawan atau atlet yang baru dapat penghargaan.

Tak hanya penyambutan yang berlebihan, kemunculan SJ di layar televise dan kanal Youtube juga menimbulkan kecaman. Tak sedikit publik figur dan netizen yang menandatangani petisi agar SJ diboikot di semua media televisi sebagai pelajaran atas perbuatan yang dilakukannya.

Dikutip dari fajar.co.id (06 September 2021), sikap tegas juga diambil oleh sutradara Angga Sasongko.

Melalui akun Twitter-nya, Angga mengumumkan untuk menghentikan kesepakatan distribusi film Nussa dan Keluarga Cemara dengan stasiun televisi. Menurut Angga, penayangan kebebasan SJ di televisi sangat tidak menghargai korban.

“Kami memberhentikan semua pembicaraan kesepakatan distribusi film Nussa & Keluarga Cemara dengan stasiun TV terkait karena tidak berbagi nilai yang sama dengan karya kami yang ramah anak,” tegas Angga.

Keputusan Angga tersebut diambil sebagai bentuk kritik terhadap perilaku yang terkesan merayakan kebebasan pelaku kekerasan seksual pada anak, dengan membiarkannya tetap muncul dan mendapat sorotan.

“Pemberitahuan ini dimaksudkan untuk mendukung gerakan yang melawan dirayakannya pelaku kekerasan seksual pada anak di media- media, serta menjadi kesadaran bersama pentingnya media-media yang menghargai anak-anak kita,” tambah Angga.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB

Evergrande CS Membuat China Bangkrut?

Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:00 WIB

Sanghyang Heuleut, Danau Pemandian Bidadari

Kamis, 7 Oktober 2021 | 15:25 WIB
X