Refleksi Hari Tani Nasional 2021: Mungkinkah Terjadi Krisis Pangan?

- Jumat, 24 September 2021 | 20:48 WIB
[Ilustrasi tanah kering] Bukan tidak mungkin krisis pangan pun akan bisa saja terjadi. Tanpa adanya perbaikan terhadap sektor pertanian. (Pixabay/ Musse Jereissati Musse Jereissati )
[Ilustrasi tanah kering] Bukan tidak mungkin krisis pangan pun akan bisa saja terjadi. Tanpa adanya perbaikan terhadap sektor pertanian. (Pixabay/ Musse Jereissati Musse Jereissati )

Bukan tidak mungkin krisis pangan pun akan bisa saja terjadi. Tanpa adanya perbaikan terhadap sektor pertanian.

 

Beras merupakan makanan pokok bagi 98% penduduk Indonesia, termasuk Jawa Barat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, yaitu 18,49% dari total penduduk atau sebanyak 49.9 juta jiwa pada tahun 2020.

Semakin bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan pokok atau pangan akan semakin meningkat sehingga seharusnya secara langsung berdampak pada meningkatnya perekonomian petani dan kesejahteraannya. ikut terdongkrak, sehingga petan-petani diIndonesia bisa merasa hidup berkecukupan dan sejatera. Dengan logika seperti itu seharusnya akan membuat banyak orang tertarik dan berbondong-bondong untuk menjadi petani termasuk anak mudanya.

Namun hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) justru memperkirakan, lambat laun profesi petani akan menghilang pada 2063. Hal itu karena para pekerja di sektor pertanian yang semakin menurun, dari tahun ke tahun. Pada 1976 rasio pekerja Indonesia dalam bidang pertanian mencapai hingga 65,8% dari total jumlah pekerja. Tapi lambat laun jumlahnya tinggal sekitar 28% pada 2019. Para pekerja sektor pertanian berangsur beralih ke sektor lainnya. Seperti yang terlihat dari sektor jasa yang pada 1976 hanya 23,57% menjadi 48,91% di 2019. Adapun pekerja dari sektor industri juga meningkat dari 8,86% di 1976 menjadi 22,45% pada 2019.

Jika kita lihat tiga lapangan usaha yang mendominasi struktur perekonomian Jawa Barat semester I-2021 terlihat bahwa lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, dengan kontribusi sebanyak 9 persen di posisi ketiga, memang masih patut diperhitungkan, namun sudah mulai tergeser oleh dua lapangan usaha lain, yaitu Lapangan Usaha Industri Pengolahan, diikuti Lapangan Usaha Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor.

Sedangkan menurut data Sakernas, pada Februari 2021, Penduduk Jawa Barat Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang memiliki Lapangan Pekerjaan Utama di sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tercatat sebanyak 17%. Hal ini mengalami peningkatan 0,1% jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2020 yang sebanyak 16,9%.

Perlu dicatat bahwa sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan termasuk lapangan usaha yang mampu bertahan bahkan masih tumbuh positif di tengah hantaman pandemi Covid-19, yang menyebabkan penurunan aktivitas produksi di beberapa lapangan usaha. Ketika pertumbuhan ekonomi jawa barat triwulan II-2020 mengalami kontraksi sebesar 5,98 persen jika dibandingkan dengan kondisi triwulan II-2019 (y-o-y), hanya empat kategori lapangan usaha yang masih mampu tumbuh positif, salah satunya adalah lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang mampu tumbuh sebesar 7,64 persen, sebagai sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua (0,62 persen) setelah lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (1,74 persen).

Kondisi terkini ekonomi Jawa Barat, yaitu semester I-2021, jika dibandingkan dengan semester I-2020 (c-to-c) menunjukkan pemulihan dengan tumbuh sebesar 2,54 persen setelah mengalami konstraksi pada periode yang sama di tahun 2020 lalu sebesar -1,65 persen. Pertumbuhan positif ini buah dari penanganan pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah diimbangi dengan inovasi pelaku ekonomi agar tetap bertahan di tengah pandemi.

Namun, pertumbuhan positif sektor pertanian sepertinya masih belum memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani. Biaya produksi yang mahal serta harga berbagai komoditas yang fluktuatif menjadikan petani seringkali mengalami kerugian.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X