Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

- Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB
[Ilustrasi kerusakan dan kekeringan tanah akibat perubahan iklim] Perubahan iklim itu nyata. Kenaikan temperatur sebagai akibat dari perubahan iklim akan membawa dampak yang mengerikan. (Pixabay/Jody Davis)
[Ilustrasi kerusakan dan kekeringan tanah akibat perubahan iklim] Perubahan iklim itu nyata. Kenaikan temperatur sebagai akibat dari perubahan iklim akan membawa dampak yang mengerikan. (Pixabay/Jody Davis)

Perubahan iklim itu nyata. Yang tidak nyata adalah langkah-langkah yang harus dilakukan.

Apa yang harus dilakukan oleh Pemda, dan apa yang harus dilakukan secara nyata oleh masyarakat kebanyakan yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim.

Saat ini, pengimbasan tentang adaptasi perubahan iklim baru sampai pada tataran menyampaikan gejala yang mungkin atau yang akan terjadi.

Di tingkat Pemda Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan/Desa, dan di masyarakat, seharusnya bukan lagi menyampaikan apa yang ada dalam dokumen-dokumen PBB, dan renstra dan peta jalan adaptasi terhadap perubahan iklim yang dibuat oleh suatu Kementrian, tapi harusnya sudah pada tindakan operasional.

Apa yang harus dilakukan dalam beradaptasi dengan perubahan iklim sesuai dengan karakter daerah masing-masing, yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

Apa yang harus dilakukan oleh masyarakat kurang mampu yang jumlahnya paling banyak di Negeri ini dalam menghadapi perubahan iklim yang sedang berlangsung.

Kenaikan temperatur sebagai akibat dari perubahan iklim akan membawa dampak yang mengerikan, yang harus disiapkan dengan kesungguhan hati langkah-langkah nyatanya.

Bila terjadi gelombang panas yang berpengaruh pada pola angin, arus laut, yang akan berpengaruh pada produktivitas tanaman pangan.

  • Perubahan temperatur di Bumi yang terus beringsut meninggi, akan berdampak buruk pada tatanan alam dan akan membawa lebih banyak resiko bagi manusia. Apa yang harus dilakukan secara nyata dengan suhu yang terus memanas? Apa yang harus dilakukan ketika terjadi percepatan siklus hidrologi yang menyebabkan terjadinya hujan lebat, sementara perbukitan dan lereng-lereng gunung yang curam sudah kehilangan kerapatan tegakan pohon, sudah berganti menjadi kebun bawang dan kentang.
  • Suhu yang panas di kawasan yang terbuka, akan menyebabkan tanah semakin dikelantang, sehingga air meteorik yang tercurah, akan dengan seketika menggerus tanah-tanah pucuk, digelontorkan, dihanyutkan ke lembah-lembah, mengendap di dasar sungai yang tenang, mengendap di danau-danau yang akan berdampak pada umur hidup danau yang semakin pendek. Padahal, danau-danau itu dibangun dengan memindahkan ribuan orang dan menenggelamkan persawahan yang subur, yang menjadi sumber pangannya.
  • Air di dalam tanah telah kehilangan akar-akar pohon sebagai juru kelola air tanah, yang mengatur kapan air tanah ditahan, dan kapan harus dilepaskan secara teratur di mataair. Kini banjir dan kekeringan sepertinya sudah dianggap hal yang wajar, disangkanya begitulah alam berdaur.

Kekeringan akan berdampak sangat luas, akan menyentuh berbagai sektor, di antaranya, air baku yang terus menyusut, air untuk pertanian terus menghilang, akan berdampak pada kemampuan sektor pertanian dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X