Menangkis Kesedihan Anak Yatim di Tengah Pandemi adalah Tugas Bersama

- Rabu, 22 September 2021 | 22:51 WIB
Ilustrasi mengulurkan tangan kepada anak yatim. Sumber: Pixabay (Pixabay)
Ilustrasi mengulurkan tangan kepada anak yatim. Sumber: Pixabay (Pixabay)

Dunia sedang sakit, barangkali begitulah ungkapan yang bisa menggambarkan keadaannya saat ini.

Selain bencana alam dan masalah sosial yang melanda secara terus-menerus, hari ini kita diterpa pandemi Covid-19 yang belum juga usai.

Memprihatinkan dan membuat seluruh masyarakat dunia tertampar dengan datangnya virus ini. Bagaimana tidak, terhitung pada tanggal 27 Agustus 2021, sudah ada sekitar 215.415.006 jiwa yang menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan virus mematikan ini.

Berbagai pihak berbondong-bondong menaruh perhatiannya terhadap masalah ini, walau sebagian ada yang mengambil kesempatan hanya untuk kepentingannya sesaat. Misalnya, di balik adanya bantuan sosial bagi masyarakat kurang mampu atau Bantuan Langsung Tunai (BLT), satu dua pejabat malah rakus memakan hak rakyat tersebut.

Tak hanya soal celah korupsi dalam BLT, beberapa memanfaatkan isu pandemi ini untuk sekadar numpang viral atau membuat konspirasi yang tidak jelas perihal Covid-19.

Terlepas dari banyaknya masalah yang muncul dari segi ekonomi maupun sosial akibat pandemi, tentunya masyarakat tak bisa abai terhadap korban Covid-19. Sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, maka sudah tugas pemerintah dan masyarakat pula dalam membantu para korban maupun keluarga korban Covid-19.

Lahirnya Banyak Anak Yatim

Jika melihat angka kematian akibat Covid-19, menurut juru bicara Covid-19, Wiku Adisasmito, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia menduduki peringkat ke 9 tertinggi di dunia. Walaupun angka kasus positif di Indonesia menurun, namun nyatanya masih berada pada tingkat 3,2 persen atau masih tinggi dibanding negara lain. Korban meninggal pun berasal dari usia produktif dan berdasarkan data yang ada disebabkan karena mereka belum mendapatkan vaksin.

Beradasarkan laporan dari Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid pun, usia yang mencapai tingkat tinggi kematian mulai bergeser pada usia 46 – 59 tahun, di mana masih termasuk ke dalam usia produktif. Berdasarkan data dari Kementerian Sosial (Kemensos), diperkirakan terdapat sebanyak 16.000  anak Indonesia yang menjadi yatim piatu.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X