Oase Perdamaian

- Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB
[Ilustrasi] Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace) (Pixabay/S. Hermann & F. Richter)
[Ilustrasi] Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace) (Pixabay/S. Hermann & F. Richter)

Sejatinya kehadiran Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace) yang diperingati setiap tanggal 21 September menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat cita-cita perdamaian dunia guna mewujudkan kehidupan 24 jam penuh tanpa kekerasan dan melakukan gencatan senjata.

Ibarat oase PBB mengajak seluruh masyarakat dunia pada peringatan Hari Perdamaian Internasional tahun 2021 ini agar ikut andil dalam mengupayakan pemulihan dunia, membentuk dunia yang adil, damai dengan melawan segala bentuk tindakan kebencian (online, offline), menyebarluaskan kasih sayang, kebaikan dan merawat harapan dalam memerangi Covid-19.

Setiap kepercayaan, agama pada dasarnya mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran, kebajikan, kedamaian, kasih sayang, welas asih, dan melarang umatnya untuk melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun guna memperoleh keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Makna Damai

Harus diakui, segala tindakan kejahatan, kebencian itu bersumber dari nawa fasu, angkara murka. Jika kita kuat memegang sikap cinta, kasih sayang, welas asih ini niscaya hidup kita akan bahagia, damai dan mampu hidup berdampingan tanpa melihat segala perbedaan agama, suku, ras dan golongan.

Ingat, kedamaian merupakan tujuan utama dari kemanusiaan sekaligus kebutuhan manusia yang paling hakiki dan menjadi tanggung jawab semua umat untuk menciptakan perdamaian di tengah keberagaman dan perbedaan yang ada.

Untuk menciptakan perdamaian harus dilakukan upaya memenuhi rasa keadilan, kesejahteraan dan rasa aman individu (komunitas), baik dari ancaman fisik maupun ekonomi. Pasalnya, dengan kedamaian kita bisa mengontrol emosi dan pikirannya agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain yang bisa memicu terjadinya konflik, kekerasan atas nama agama secara terbuka.

Dengan demikian, membangun kedamaian tidak hanya sekadar tidak adanya perang, konflik, tetapi keadaan pikiran yang tenang dan santai, karena jika setiap orang merasa damai, maka ia akan memiliki pikiran dan perilaku yang positif dan dunia akan menjadi damai.

Alkisah, “Suatu hari seorang Guru memiliki murid Islam, Hindu yang sama banyaknya di India, ditanya mana yang lebih agung Islam atau Hindu. Dengan sejuk dan teduh Guru Nanak menyebutkan, baik Islam maupun Hindu sama-sama kehilangan keagungan kalau umatnya tidak berbuat baik. Siapa saja yang mengisi hidupnya dengan kebaikan, ia sudah menyiapkan lahan subur”.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X