Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

- Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB
[Ilustrasi bambu] Demi melestarikan bambu secara global, Organisasi Bambu Dunia (WBO), sejak tahun 2009, rutin memprakarsai Hari Bambu Sedunia. (Pixabay/young ho seo)
[Ilustrasi bambu] Demi melestarikan bambu secara global, Organisasi Bambu Dunia (WBO), sejak tahun 2009, rutin memprakarsai Hari Bambu Sedunia. (Pixabay/young ho seo)

Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan bambu secara global, Organisasi Bambu Dunia (WBO), sejak tahun 2009, rutin memprakarsai Hari Bambu Sedunia setiap tanggal 18 September.

Untuk Perayaan Hari Bambu Sedunia tahun ini, WBO meluncurkan tagar khusus #PlantBamboo. Tentu bukan tanpa alasan tagar tersebut dipilih

Secara ilmiah, bambu bukanlah pohon. Bambu sejatinya adalah rumput -- rumput raksasa. Bambu masuk keluarga Poaceae. Saat ini, setidaknya ada 1.500 spesies bambu di seluruh dunia. Di Indonesia, bambu dapat ditemukan di 30 provinsi, dengan luas lahan total 2,1 juta hektar.

Bambu dapat tumbuh pada ketinggian yang berbeda dan dalam berbagai kondisi iklim. Namun, tanaman ini cenderung lebih menyukai iklim tropis. Bambu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari obat-obatan, konstruksi bangunan, produksi berbagai alat/instrumen hingga makanan untuk manusia dan hewan.

Dalam hal makanan, rebung bambu telah menjadi bagian integral dari masakan masyarakat Asia selama ribuan tahun. Selain rendah lemak dan kalori, rebung merupakan sumber serat, potasium, dan vitamin yang sangat baik.

Sebagai komoditas, bambu mampu mengucurkan devisa yang tidak kecil. Itulah sebabnya sebagian kalangan di Barat menyebut bambu sebagai green gold  -- emas hijau.

Berdasar pada data ekspor tahun 2019, yang dirilis Trend Economy pada Agustus 2021 lalu, terdapat lima besar negara pengekspor komoditas bambu saat ini.

Tiongkok berada di urutan pertama dengan keuntungan devisa sebesar 60 juta dolar AS. Disusul Vietnam (6, 92 juta dolar AS), Belanda (3,24 juta dolar AS), Thailand (3,03 juta dolar AS) dan Polandia (1,46 juta dolar AS).

Adapun Indonesia berada di urutan keenam dengan keuntungan 1,39 juta dolar AS.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X