Mesin Waktu dan Media Sosial

- Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB
[Ilustrasi mesin waktu] Tidak ada mesin waktu memang, tapi mari kita anggap ada, dengan eksistensi media sosial. Platform itu bisa kita bawa ke mana-mana. (Pixabay/Stefan Keller)
[Ilustrasi mesin waktu] Tidak ada mesin waktu memang, tapi mari kita anggap ada, dengan eksistensi media sosial. Platform itu bisa kita bawa ke mana-mana. (Pixabay/Stefan Keller)

Bertahun-tahun lalu kita tidak bisa membayangkan berinteraksi dengan siapa pun yang tidak kita kenal, yang tinggal beratus-ratus atau bahkan beribu kilometer dari kita.

Dulu semua itu tidak mungkin terjadi. Seperti sesuatu yang hanya muncul dari alam mimpi saja. Kita hanya bisa berinteraksi dengan orang di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dan saudara/kerabat. Kita tidak dapat membayangkan pertemanan bisa terjalin dengan orang yang berada jauh tanpa perlu kita bepergian jauh.

Tapi, itu dulu. Kini semua beda.

Media sosial membuat segalanya mungkin. Kita dulu tidak terpikir berinteraksi dengan si A yang tinggal di kota di seberang benua, tetapi kini soal itu bukan mustahil. Ini fakta yang boleh jadi membuat orang-orang zaman dulu terbengong-bengong, jika saja kita bisa membawa mereka kemari, ke masa depan, dengan mesin waktu.

Tidak ada mesin waktu memang, tapi mari kita anggap ada. Kita bawa orang-orang dari masa lalu ke masa kini. Kita lihat wajah orang-orang ini terbengong-bengong oleh kesaktian benda bernama media sosial.

Di kantung baju atau celana, benda itu bisa kita bawa ke mana-mana.

Bayangkan tidak ada seorang pun dari orang-orang masa lalu tadi yang tidak tercengang, lalu bertanya, "Kamu bisa benar-benar tahu seisi dunia?"

Tetapi, tunggu dulu. Tidakkah interaksi kita justru sedikit terganggu dengan adanya benda bernama media sosial ini? Maksud saya, interaksi dengan mereka yang justru ada di sekeliling kita, yang dapat kita jumpai dan sentuh wujud fisiknya.

Mau tidak mau, harus diakui, perkembangan zaman mengubah posisi kita sebagai makhluk gaul di muka bumi.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X