‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

- Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB
Krisdayanti, penyanyi Indonesia. (Wikimedia Commons)
Krisdayanti, penyanyi Indonesia. (Wikimedia Commons)

Biasanya saat diva Krisdayanti melantunkan lagu, kita dibuatnya terpesona. Desahan Krisdayanti mengajak pendengar jauh berimajinasi.

Namun kali ini nyanyian Krisdayanti malah  membuat sebagian orang tersengat. Privasi mereka terganggu. Rahasia dapur mereka terekspos ke publik. Siapakah mereka ini? Mereka adalah anggota DPR. Mereka adalah wakil rakyat.

Nyanyian Krisdayanti kali ini adalah saat ia blak-blakan mengungkap gajinya sebagai anggota DPR. Dia membeberkannya dalam video berjudul Nekat, Krisdayanti Berani Bicara Politik Di Sini, yang ditayangkan di kanal Akbar Faizal Uncensored di YouTube, Senin (13/9/2021).

Krisdayanti merinci begini: setiap tanggal satu (dapat) Rp16 juta. Tanggal lima, Rp59 juta. Lalu ada dana aspirasi yang diterimanya setiap reses sebesar Rp450 juta. Itu lima kali dalam setahun. Plus dana kunjungan Dapil ( daerah pemilihan ) sebesar Rp140 juta delapan kali dalam setahun.

Seorang teman iseng-iseng menghitungnya. Dalam setahun diperoleh sebesar ini:

  1. Gaji pokok 16 juta/bulan =192 juta
  2. Tunjangan 59 juta/bulan =708 juta
  3. Dana aspirasi 450 juta x 5 = 2,25 Miliar
  4. Dana dapil 140 juta x 8 = 1, 12 miliar

Total dalam setahun anggota DPR terima Rp 4,27 Miliar.  Mantap!

Angka itu bikin heboh Senayan, tempat wakil rakyat berkantor. Alih-alih mau menutupi pendapatan mereka ke publik, eh malah dibongkar teman sejawat. Sebagian dari mereka pun ramai-ramai meluruskan.  Para pelurus bilang, tidak semua diterima ke rekening pribadi. Belakangan Krisdayanti juga meluruskan  dana reses tidak untuk pribadi.

Walau sudah diluruskan, fakta di depan mata ada angka Rp 4,27 miliar. Tinggal bagaimana wakil rakyat itu mengelolanya. Pokoknya tajir. Aman hidup mereka. Pandemi berkepanjangan pun tak  jadi masalah.

Kita perlu memahami bahwa angka itu adalah hak mereka. Proses mereka menuju Senayan  “berdarah-darah”. Namun yang mengkhawatirkan, angka menggiurkan itu bisa membuat kendur kewaspadaannya dan akibatnya akan memudahkan seseorang terjerat dalam "perbudakan  biologis".  Ini adalah istilah filsafat moral. Sekadar pengantar, istilah ini merupakan buah pemikiran filsuf Aristoteles.  

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X