Kisah Duo Bobotoh Bangsa Belgia di Bandung (1906-1911): Coorde dan A. Hagelsteens

- Rabu, 15 September 2021 | 16:27 WIB
Iklan yang dipasang Coorde saat memulai bisnis permata dan jam di Bandung. (AID, 19 September 1904.)
Iklan yang dipasang Coorde saat memulai bisnis permata dan jam di Bandung. (AID, 19 September 1904.)

Duo bobotoh bangsa Belgia ini punya sekelumit kisah yang turut memberi daya hidup persepakbolaan di Bandung antara, 1906 hingga 1911.

Setelah Preanger Voetbalbond (PVB), sebagai perserikatan sepak bola di Bandung, tidak aktif menyelenggarakan kompetisi, kegairahan persepakbolaan di Bandung masih dapat dipertahankan dengan terlibatnya dua orang Belgia sebagai bobotohnya. Keduanya adalah Camille Coorde dan August Hagelsteens.

Dalam rentang 1906 hingga 1911, mereka berdua aktif memberikan hadiah untuk kompetisi sepak bola yang diberi tajuk Coorde-medaille (CM) dan Hagelsteens-vaandel (HV). Bahkan ternyata bukan hanya sepak bola, khususnya Coorde, menjadi penyandang hadiah pula untuk penyelenggaraan kompetisi olah raga lainnya, seperti polo air.

Dalam tulisan ini, saya hendak menelusuri jejak-jejak CM dan HV, sekaligus menghimpun data biografis kedua penggagasnya. Karena dari survei awal kepustakaan, saya mendapati keduanya punya riwayat yang sangat menarik ketika berbisnis di Bandung, termasuk urusan pemertahanan identitasnya sebagai bangsa Belgia.

Sumber utama pencarian jejak-jejak kompetisi CM dan HV ini adalah koran berbahasa Belanda yang terbit di Bandung sejak 1896, yaitu AID De Preanger-Bode. Selain AID, saya sesekali mengandalkan pula koran lainnya, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie (HNDNI).

Profil Coorde dan Hagelsteens mulai terkuak saat saya membaca berita dari HDNI dan AID edisi 9 November 1915. Yang sangat menarik, identitas tersebut muncul dalam konteks pengadilan di Batavia pada 16 November 1915 yang akan menghakimi keduanya karena menyebarkan kebencian terhadap bangsa Jerman.

Lebih jelasnya, keduanya yang orang Belgia diduga bersama-sama dapat membangkitkan rasa benci melalui kata-kata terhadap orang Jerman di Hindia. Padahal di Eropa kedua bangsa tersebut sedang berperang. Ini berawal saat keduanya pada November 1914, sebelum tanggal 11, mencetak 500 eksemplar buletin bertulisan “Sedan” di Electrische Drukkerij Insulinde, Bandung. Dari jumlah itu, 450 eksemplar di antaranya disebarkan kepada warga Eropa di Bandung dan 50 lainnya diposkan.

Namun, selain informasi tersebut, yang penting adalah data pribadi keduanya. Dalam kedua koran tersebut disebutkan umur, tempat lahir, dan pekerjaan mereka. August Hagelsteens disebutkan berumur 44 tahun, lahir di Antwerp (Belgia), dan bekerja sebagai juragan jahit pakaian pria. Sementara Camille Coorde berumur 47 tahun, lahir di Impe (Belgia), dan bekerja sebagai saudagar permata. Mereka tinggal di Bandung.

Dari data tersebut, dapat diperkirakan Hagelsteens lahir pada 1870  atau 1871 dan Coorde pada 1868. Alhasil, keduanya hanya terpaut sekitar tiga tahun saja umurnya, sehingga dapat dibilang sebaya. Tetapi karena Coorde lebih dulu memberikan kontribusi bagi perkembangan sepak bola di Bandung, saya akan lebih dulu membahasnya. Setelah itu, barulah Hagelsteens.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pansos Demi Cuan?

Selasa, 28 September 2021 | 08:00 WIB

Selamatkan Remaja dari Perilaku Kejahatan Seksual

Senin, 27 September 2021 | 12:46 WIB

Pemerintah China Diuji Kasus Evergrande

Senin, 27 September 2021 | 08:00 WIB

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB
X