Muadzin Menangis akibat Covid-19

- Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB
[Buku] Covid-19: Semua Porak Poranda (Dokumentasi Pribadi)
[Buku] Covid-19: Semua Porak Poranda (Dokumentasi Pribadi)

Pembaca akan memperoleh pengalaman bermakna soal Covid-19 yang dikaitkan dengan muadzin di Iran dan Imam Masjidil Haram yang menangis.

Pandangan lama menyebutkan masyarakat Indonesia mengandalkan komunikasi secara verbal. Hal tersebut  sudah berlangsung lama  sehingga yang berkembang kemudian adalah dongeng atau dalam bentuk tembang. Mau tak mau bila ingin memperoleh  data tertulis atau manuskrip tentang Indonesia  harus pergi ke Leiden, Belanda. Spanyol  bahkan Inggris.

Kecenderungan itu menyebabkan terjadi bias sebab ‘kebenaran’ tergantung dari penulisnya yang notabene mewakili kepentingan penjajah.Dampak lain, kebiasaan menyampaikan secara verbal juga menyebabkan berbagai peristiwa penting menjadi kabur atau terlupakan sama sekali.

Bila dewasa ini ada keaktifan luar biasa dalam mem-posting WhatsApps (WA), kiranya tak dapat dianggap telah terjadi pergeseran dari budaya verbal ke terdokumentasi. Masyarakat menghapus WA tanpa kesan. Hanya pihak berwenang yang secara selektif menyimpan.

Masih perlu usaha keras agar terwujud budaya mendokumentasikan secara tertulis  berbagai peristiwa. Supaya menjadi pengingat bagi generasi mendatang, agar peristiwa itu tak terulang lagi. Atau menjadi pedoman mendeteksi kemungkinan terjadi pola-pola ulangan.

Kematian tentara Inggris, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Wallaby di Surabaya  pada 30 Oktober 1945 cenderung dilupakan. Siapa yang menembak atau meledakkan bom yang berakibat kematiannya?

Berbagai nama muncul. Salah satu diantaranya Harun, santri Pesantren Tebu Ireng. Sekalipun banyak versi, tetapi sejarahwan militer Barat tentu mencatat peran pesantren harus diperhitungkan bila membahas masa depan NKRI. Lha kita sendiri?

Mengabadikan Wabah Covid-19

Wabah Covid-19 yang dicanangkan WHO pada Maret 2020 patut memperoleh perhatian seksama. Didokumentasikan secara tertulis atau dalam bentuk lain agar dapat difahami generasi mendatang.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X