Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

- Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB
Dugaan sementara letak benteng Tanjungpura berada di A, di sisi selatan Ci Tarum dan di sisi barat Jl Raya Pasar Bojong. (Deni Sugandi)
Dugaan sementara letak benteng Tanjungpura berada di A, di sisi selatan Ci Tarum dan di sisi barat Jl Raya Pasar Bojong. (Deni Sugandi)

Lokasi benteng Tanjungpura berada di tempuran Ci Beet dengan Ci Tarum. Kawasan ini menjadi strategis sejak lama.

Kini, di kawasan Tanjungpura itu terdapat enam jembatan yang berdampingan, yang membujur tenggara - baratlaut, menghubungkan Kabupaten Karawang dengan Bekasi. Pertama dua jembatan Jl Raya Pasar Bojong, yang menghubungkan Jl Rangga Gede, Karawang, dengan Jl Raya Bojongsari, Bekasi.

Kedua dua jembatan rel keretaapi, dan ketiga dua jembatan Jl Raya Tanjungpura/Jl Raya Pantura. Keenam jembatan itu dibangun di atas Ci Tarum, yang saat ini lebar sungainya sekitar 65 m. Bila sedang meluap, banjir akan menutupi bantaran sungai, sehingga lebarnya menjadi 150 m.

Kawasan ini sudah lama dipetakan, seperti yang terdapat dalam peta yang dihimpun oleh F de Haan (1910-1912), dan kini menjadi koleksi Arsip Nasional Indonesia (ANRI).

Dalam himpunan peta tersebut terdapat peta benteng Tanjungpura, Karawang. Inilah benteng pertama yang dibangun oleh kompeni tahun 1678 di luar Batavia.

Benteng ini dibangun untuk kepentingan perdagangan, pertahanan, dan mengadili warga masyarakat yang dipandang membangkang kepada VOC. Setahun kemudian, pada tahun 1679, benteng ini diserang dan dibakar oleh Wirasaba, bupati/patih Tanjungpura. Namun, akhirnya Wirasaba menyerah.

Kekhawatiran kompeni akan serangan susulan, diusulkanlah agar benteng dibuat permanen. Namun tidak terlaksana. Pada tahun 1712 dilaksanakn pemagaran sekeliling benteng dengan kayu yang tinggi, yang ujung atasnya diruncingkan.

Baru pada tahun 1749 benteng Tanjungpura dibangun lebih permanen menggunakan batubata. Melihat pentingannya benteng ini, pada tahun 1802 dibangun kembali lebih kokoh.

Setelah pergantian gubernur jenderal menjadi HW Daendels, pada tahun 1809 Daendels memerintahkan agar benteng dikosongkan. Berselang dua tahun, pada tahun 1811, ia memerintahkan untuk menjual benteng beserta lahannya. Pada tahun 1812 benteng dan lahannya ada yang membeli, namun, pada tahun 1813 benteng Tanjugpura dirobohkan. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X