Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

- Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB
[Ilustrasi marah] Membandingkan orang yang kita nasihati dengan binatang sama saja mencela mereka dengan keburukan.  (Unsplash/engin akyurt)
[Ilustrasi marah] Membandingkan orang yang kita nasihati dengan binatang sama saja mencela mereka dengan keburukan. (Unsplash/engin akyurt)

Membandingkan orang yang kita nasihati dengan binatang sama saja mencela mereka dengan keburukan. Niat baik saja tidak ada gunanya.

Belum lama ini saya melihat postingan seseorang di sebuah media sosial, yang menurut saya kurang pantas, karena menyinggung harga diri sesama manusia. Kesimpulan yang dapat saya tangkap dari postingan tersebut yakni menyamakan orang yang sedang joget di jalan raya, dengan topeng monyet yang biasa joget dan menghibur orang di pinggir jalan.

Postingan tersebut juga dilengkapi dengan dua gambar yang sangat kontras, yakni gambar topeng monyet dengan pemandunya dan gambar rombongan orang yang sedang joget di jalan raya. Bila gambar tersebut diteliti, sepertinya mereka sedang joget lewat aplikasi Tiktok. Sebagaimana kita ketahui bahwa aplikasi tersebut saat ini memang banyak digemari masyarakat karena bisa menjadi ajang berekspresi dan hiburan yang menyenangkan.

Saya menebak, mungkin orang yang membuat postingan (dengan menyertakan gambar topeng monyet dan orang-orang yang sedang berjoget) tersebut karena ingin melucu sekaligus memberikan nasihat kepada orang-orang yang senang bermain tiktok, terutama mereka yang hobi berjoget cari sensasi di pinggir jalan. Ya, niat memberi nasihat bisa jadi memang baik, tapi cara menasihatinya itu menurut pemahaman saya kurang etis dan menyinggung harga diri orang lain. Karena dia menyamakan mereka dengan monyet. Saya merasa yakin mereka akan tersinggung seandainya tahu fotonya diambil dan disandingkan dengan foto topeng monyet.

Menasihati atau menegur orang memang baik. Namun akan menjadi tidak baik bila dilakukan dengan cara yang keliru dan menyakiti hati orang yang dinasihati. Terlebih bila dengan kata-kata kasar, menghina, melukai, dan ditunjukkan di depan publik. Dalam ajaran Islam, kita dilarang menasihati orang lain di depan umum karena hal tersebut dapat membuatnya merasa malu, hilang harga diri dan kewibawaannya.

Seyogianya ketika hendak menasihati orang haruslah dengan cara yang baik. Itu pun tak semua orang berhak dan layak menasihati. Artinya, jangan sembarangan menasihati orang lain, terlebih kepada orang yang belum kita kenal. Di antara etika memberi nasihat ialah dilakukan secara sembunyi, alias jangan menampakkan di depan orang banyak. Undang orang yang hendak kita nasihati agar datang ke rumah, misalnya, atau ajak dia mengobrol dari hati ke hati di tempat yang tak ramai agar privasinya lebih terjaga.

Jangan lupa, sebelum kita memberikan nasihat pada orang lain, alangkah lebih baiknya kita melakukan introspeksi diri terlebih dulu, apakah kita berhak dan sudah pantas memberikan nasihat? Apa kira-kira dia mau mendengar ucapan kita? Apakah niat kita benar-benar tulus ingin menasihati, atau jangan-jangan kita hendak menguliti dan menghakimi kesalahannya dan mempermalukan mereka di hadapan orang lain?

Rasa welas asih atau kasih sayang juga penting kita tanamkan ketika hendak memberikan nasihat pada orang lain. Tanpa sifat welas asih, mustahil nasihat yang keluar dari mulut kita akan berbuah kebaikan. Tanpa rasa kasih sayang, nasihat kita tentu tak akan memberilan efek positif  kepada orang yang kita nasihati. Sebab orang yang tak memiliki rasa kasih sayang biasanya memiliki gesture dan wajah yang tidak ramah dan menyebalkan.

Dan yang tak kalah penting, ketika menasihati orang lain, jangan sampai kita menyamakannya dengan hal-hal yang tak baik yang dapat menyinggung atau menyakiti hatinya. Misalnya, menyerupakan atau membandingkan orang yang kita nasihati dengan binatang.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB
X