Vigilantisme Media Sosial

- Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB
Ilustrasi vigilantisme di media sosial. (Pixabay/Gerd Altmann)
Ilustrasi vigilantisme di media sosial. (Pixabay/Gerd Altmann)

AYOBANDUNG.COM -- Media sosial belakangan berubah menjadi media teror. Media sosial juga menjelma menjadi media yang bisa memfasilitasi untuk memberi sangsi, dan menghukum seseorang atau lembaga secara sosial. Serangkaian kejadian di media sosial memperkuat hal itu. Ada beberapa selebritis yang diancam akan dibunuh oleh fans, gara-gara dia putus. Masih dari kalangan selebritis yang diancam tidak bolah lagi tampil di layar kaca oleh netizen, gara-gara dia berperilaku tidak disukai dan pernah memiliki catatan criminal di masa lalunya. Tidak sampai di situ, di dunia selebritis juga ada beberapa selebritas yang di-bully dan dijadikan bahan candaan yang viral di media sosial.

Di dunia politik pun tidak kalah menariknya fenomena terror di media sosial. Termasuk para pejabat yang sering mendapat cacian, cibiran, juga sanksi sosial dari para pengguna media sosial. Mulai dari aktivitas sehari-hari yang dianggap melanggar norma dan aturan, sampai perbuatan dan tindakannya yang berseberangan dengan norma dan hukum.

Media sosial tidak hanya menjadi tempat memamerkan rumah mewah, kendaraan mahal yang berjejer, berbagai torehan prestasi, dan prestise lainnya. Media sosial juga menjadi ruang publik virtual yang memfasilitasi para penggunanya untuk membahas hal-hal yang krusial, sensitif sampai menjatuhkan seseorang. Dengan berbagai pesan yang bertubi-tubi membuat seseorang harus jatuh dan dibikin malu, sampai tidak sanggup lagi untuk melakukan aktivitas seperti biasa.

Media sosial yang dijadikan tempat untuk menyalurkan kekesalan, pembalasan, dan membunuh karakter seseorang ialah sebagai bagian dari tindakan vigilantisme. Menurut Daniel Trottier (2016) vigilantisme semakin semarak di media sosial, dan orang ramai-ramai menghakimi atau mempersekusi orang lain yang dituduh telah menodai hukum atau merusak aturan.

Biasanya yang sering dilakukan dalam bentuk vigilantisme di media sosial itu dengan mengungkap tanpa batas mengenai identitas sampai viral, seperti doxing. Hanya satu tujuannya, yaitu membuat malu orang. Dengan demikian, sebagai efek dari vigilantisme di media sosial pun terasa dalam kehidupan di dunia nyata. Dan tidak hanya pada dirinya, juga menjalar ke keluarga, kerabat, relasi. Itulah kekuatan vigilantisme di virtual.  

Semakin melek dan berkembangnya media sosial, dengan jumlah pengguna yang terus meningkat, maka praktik vigilantisme di media yang kekuatannya pada virtual tidak bisa dihindari lagi. Vigilantisme di media sosial merupakan sisi lain dari merebaknya budaya user-generated. Setiap orang, bisa dengan leluasa mematai-matai sampai terlibat meneror, dan ikut serta menghakimi orang atau lembaga yang dianggap melakukan penyimpangan, atau telah berbuat semena-mena sehingga merugikan orang lain.

Vigilantisme di negara kita, sesungguhnya sudah ramai terjadi dan sering dilakukan jauh sebelum ramainya di media sosial. Berdasarkan data dari Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) bahwa dari kurun waktu antara Maret 2014 sampai Maret 2015, kurang lebih ada 4.723 tindakan yang tergolong pada vigilantisme, yaitu berbentuk main hakim sendiri di 34 provinsi. Jumlah korban pun tidak sedikit, yaitu 321 orang kehilangan nyawa, 5.789 orang luka-luka berat dan ringan, 2 orang mendapat perlakukan pelecehan seksual, dan 293 sarana dan prasarana rusak.

Vigilantisme terhadap kalangan minoritas yang berbeda agama atau berseberangan aliran kepercayaan pun terjadi. Menurut data dari Human Rights Watch bahwa kaum minoritas agama sering kali mendapat tindakan-tindakan vigilantisme yang tidak terpuji, seperti kalangan Ahmadiyah yang sampai sekarang tidak pernah selesai mendapatkan perlakukan intoleransi.

Adanya vigilantisme ini dipicu oleh hal-hal yang beragam. Menurut hasil penelitian Les Johnston (1996) bahwa vigilantisme sebagai upaya menjaga dan melestarikan prinsip dan nilai-nilai luhur di tengah-tengah masyarakat. Sedikit berbeda dengan S. David Bernstein dalam Psychology Today, bahwa alasan seseorang atau komunitas melakukan vigilantisme ialah karena merasa diri dan kelompoknya termarginalkan, tidak puas atas kinerja pemerintah dan apra penegak hukum. Seperti yang ditunjukkan Daniel Jordan Smith (2004) dari hasil penelitian di Nigeria bahwa masyarakat Nigeria melakukan vigilantisme karena merasa tidak aman dan tidak puas kepada Nigeria.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB

Evergrande CS Membuat China Bangkrut?

Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:00 WIB

Sanghyang Heuleut, Danau Pemandian Bidadari

Kamis, 7 Oktober 2021 | 15:25 WIB
X