Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

- Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
Ilustrasi bendera negara Jepang. (Pixabay/David Peterson)
Ilustrasi bendera negara Jepang. (Pixabay/David Peterson)

Tak ribet, penyelenggaraan Pemilu di negara yang pemerintahannya bersistem Parlementer. Perdana Menteri sebagai kepada pemerintahan bisa secara tiga mengumumkan penyelenggaraan Pemilu!

Pemilu mendadak bisa sukses karena sistem, proses, dan strukturnya sudah baku. Tambahan lagi birokrasi pemerintah sudah kokoh.

PM Jepang Yoshihide Suga pada minggu lalu menyatakan Pemilu diadakan bulan Oktober. Berarti kurang dari dua bulan lagi. Tak ada yang  protes walaupun itu siasat untuk mengamankan partainya, Partai Liberal Demokrat (LDP).

Pemilu untuk Majelis Rendah  akan berlangsung 17 Oktober 2021, empat hari sebelum habis masa bakti para anggotanya . Adapun  pemilihan ketua partai Liberal Demokrat (LDP) diadakan pada 29 September mendatang. Diperkirakan bila, Pemilu diadakan lebih dulu maka posisi dominan LDP akan berantakan.

Suga menyatakan tak akan ikut kontes ketua LDP. Berarti dia tidak punya peluang untuk menjadi PM. Maklum Ketua LDP terpilih secara otomatis menjadi Perdana Menteri Jepang

LDP dewasa ini menguasai 54,5% kursi anggota parlemen (Diet) Jepang. Diet terdiri dari Majelis Rendah dan Majelis Tinggi. Para anggotanya dipilih rakyat.

Mitranya adalah partai Komeito yang menguasai 8% kursi anggota parlemen.  Jadi kedua partai menguasai 62,5% kursi dan berhak membentuk koalisi pemerintahan Jepang.

Pengganti Suga?

Partai di Jepang, terutama LDP dan Partai Demokratik Jepang yang beroposisi, memiliki faksi atau secara sederhananya diartikan adalah kelompok. Faksi sudah ada sejak lama. Kepemimpinannya dari waktu ke waktu berganti dan kadang berbau oligarki.

Peran pemimpin sesungguhnya tidak enteng. Dia harus memberikan bantuan kepada para calon atau anggota Majelis Rendah dan Tinggi baik untuk biaya operasional sehari-hari atau membiayai pemilihan karena  pemerintah menyediakan yang terbatas.  

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inflasi dan Pasar Saham Indonesia

Rabu, 6 Juli 2022 | 12:41 WIB

Kerbau di Cicalengka Tahun 1880-1900

Minggu, 3 Juli 2022 | 19:36 WIB

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB
X