Saipul Jamil, Komodifikasi di Balik Kebebasan sang Penyanyi Dangdut

- Senin, 6 September 2021 | 16:57 WIB
Saipul Jamil, artis dan penyanyi dangdut. (Wikimedia Commons)
Saipul Jamil, artis dan penyanyi dangdut. (Wikimedia Commons)

Saipul Jamil bebas dengan sambutan luar biasa. Mantan narapidana itu seolah peraih medali emas yang kembali ke Tanah Air.

***

Sejak dinyatakan bebas pada Kamis (2 September 2021) lalu, kemunculan penyanyi dangdut  Saipul Jamil terus menjadi sorotan.

Adapun sorotan pertama adalah "penyambutan" kebebasan Saipul yang luar biasa, seolah peraih medali emas yang kembali ke Tanah Air. Saipul dikalungi rangkaian bunga, berdiri di atas Ferrari merah dengan flamboyan melambai-melambaikan tangan kepada khalayak.

Orang-orang yang balik melambaikan tangan seolah lupa bahwa Saipul baru saja menyelesaikan masa hukumannya sebagai orang yang dinyatakan cacat hukum karena kasus a-susila. Saipul dinyatakan bersalah karena melakukan pencabulan terhadap remaja pria berinisial DS yang diiming-imingi uang Rp 50.000.

Sorotan kedua, televisi kita pun mengabaikan cacat hukum Saipul Jamil dengan menayangkan pesta pembebasan itu. Beberapa program televisi juga mulai mengundang Saipul sebagai bintang tamu.

Tentu saja respons televisi itu mengundang protes, bahkan petisi.  "Jangan biarkan mantan narapidana pencabulan anak di usia dini (pedofilia) masih berlalu-lalang dengan bahagia di dunia hiburan, sementara korbannya masih terus merasakan trauma," demikian salah satu isi keterangan petisi yang dibuat di laman change.org oleh Lets Talk and enjoy. "Sungguh sangat berharap stasiun televisi melakukan hal yang sama dengan memboikot mantan narapidana pencabulan anak diusia dini (pedofilia) muncul," lanjut isi petisi tersebut.

Sampai Senin (6 September 2021) pukul 10.35 WIB  petisi itu sudah mencapai 377.754  tanda tangan online. Akankah petisi itu menghentikan program televisi yang  "menjual" Saipul Jamil? Rasanya akan menjadi pertimbangan beberapa televisi yang menjaga “trust” pemirsa. Namun saya yakin ada juga televisi yang tetap mengedepankan komodifikasi.

Bicara komodifikasi, inilah yang dimanfaatkan oleh manajemen Saipul. Pembebasannya di-setting bak superhero, kemudian ditayangkan di media sosial, dan akhirnya merembet ke televisi kita. Sebab, Saipul adalah komoditas yang layak dijual. Makin kontroversial, kian menjual.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB

Evergrande CS Membuat China Bangkrut?

Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:00 WIB

Sanghyang Heuleut, Danau Pemandian Bidadari

Kamis, 7 Oktober 2021 | 15:25 WIB
X