Wajah Pendidikan di Masa Pandemi: Pemerintah Gagal, Pelajar dan Mahasiswa Jadi Korban

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 12:32 WIB
Siswa SMP mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui televisi satelit.
Siswa SMP mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui televisi satelit.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Dunia pendidikan Indonesia, di tengah wabah Covid-19, mengalami dampak yang besar. Kegiatan belajar dan mengajar yang semula berlangsung secara tatap muka, kini berganti menjadi virtual. Buntutnya, pelajar dan mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengeyam pendidikan yang berkualitas. Sebab, kegiatan belajar dan mengajar yang berganti ruang menjadi virtual rupanya sangat tidak efektif dan membikin akses untuk menempuh pengetahuan menjadi terhambat. 

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kapan bisa berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar secara tatap muka. Dalam konteks ini, Front Mahasiswa Nasional (FMN) melihat kondisi pendidikan saat ini sama seperti "putus sekolah atau kuliah".

"Tidak ada bedanya dengan 'putus kuliah'.  Proses belajar hanya menjadi formalitas, menggugurkan tanggung jawab, memenuhi absensi," ungkap Ketua Umum PP FMN, Symphati Dimas Rafi'i dikutip dari Suara.com -- jaringan Ayobandung.com, Rabu (4/7/2021).

Dimas menilai, sebagian besar fungsi pendidikan -- serta institusinya: sekolah dan kampus -- telah hilang. Sosialisasi sesama pelajar dan pengajar sudah berganti menjadi layar ponsel gengam atau laptop, kegiatan diskusi dan forum ilmiah kini sudah tiada, hingga pertemuan yang memungkinkan melahirkan gagasan sudah tidak terjadi lagi.

Muara dari permasalahan itu adalah kegagalan pemerintah dalam melakukan penanganan terhadap Covid-19. Sehingga, pelajar dan mahasiswa yang menjadi korban dari hal-hal tersebut.

"Pemerintah gagal dalam menangani pandemi Covid-19, sehingga mahasiswa dan pelajar menjadi korbannya," sambungnya.

Pendidikan Terlantar

Pembelajaran online lebih banyak merugikan para pelajar dan mahasiswa. Misalnya, ada ongkos lebih yang harus dikeluarkan guna mengakses pendidikan di masa pandemi Covid-19. Pelajar dan mahasiswa kini diharuskan mempunyai barang wajib: ponsel genggam dan laptop atau komputer. Tidak sampai situ, ongkos lainnya adalah kuota internet sebagai bensin untuk menuju ruang kelas virtual.

FMN mencatat, mayoritas pelajar kesulitan untuk menjalani rutinitas tersebut. Jika dirata-rata, pelajar dan mahasiswa setidaknya harus mengocek saku sebesar Rp82 ribu untuk paket data dalam sebulan. 

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Terkini

PPKM Diperpanjang Lagi? Besok Pengumumannya

Minggu, 19 September 2021 | 09:54 WIB

Masyarakat Harus Disiplin Pakai Masker di Acara Keagamaan

Minggu, 19 September 2021 | 09:06 WIB

Indonesia Siap Produksi Mobil Listrik Mei 2022

Jumat, 17 September 2021 | 21:45 WIB
X