AJI Gelar Pelatihan 'Jurnalisme & Trauma'

- Rabu, 28 Juli 2021 | 20:00 WIB
Ilustrasi jurnalis di area konflik.
Ilustrasi jurnalis di area konflik.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Trauma adalah salah satu konsekuensi paling sering terjadi dari konflik kekerasan dan bencana lainnya yang mempengaruhi umat manusia.

Studi menunjukkan bahwa pengalaman traumatis dapat berulang selama beberapa generasi, sehingga mempengaruhi masyarakat secara permanen.

Di Indonesia, beberapa konflik pernah terjadi dan hingga saat ini proses pemulihan masih terus berlangsung. Jurnalis memiliki peran kunci dalam mendorong proses pemulihan ini. Mereka harus mendokumentasikan dan menggambarkan keadaan insiden kekerasan atau proses pemulihan para korban.

Jurnalis dapat membantu pihak berkonflik atau bahkan pemerintah untuk memahami penyebab dan konteks konflik yang terjadi. Dengan demikian, masyarakat yang berkonflik dapat mengembangkan dialog untuk mencari solusi bersama.

Program “Jurnalisme dan Trauma” ini bertujuan untuk mendukung jurnalis Indonesia dalam mengembangkan strategi yang berorientasi pada solusi dan sensitif konflik untuk mengatasi pengalaman traumatis saat liputan. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama dengan organisasi pengembangan media Jerman, DW Akademie, menyelenggarakan program pelatihan online yang konklusif untuk jurnalis dari seluruh Indonesia. Program ini mendapatkan dukungan keuangan dari Kementerian Luar Negeri Jerman.

Sebanyak 50 jurnalis akan diundang untuk mengikuti pelatihan online selama delapan minggu pada bulan September-Oktober 2021, yang terdiri dari sesi pelatihan jurnalistik dan akademik tentang aspek konflik dan trauma. Peserta yang diterima dalam program ini, akan mendapatkan pelatihan dari berbagai narasumber nasional dan internasional tentang jurnalisme yang sensitif konflik serta berorientasi pada solusi, etika jurnalistik, jurnalisme digital, dan metodologi penelitian mendalam.

Selain itu, peserta akan berkesempatan dalam diskusi panel dengan pakar media, politik, sejarah, dan agama dari nasional maupun internasional - untuk menyajikan dan mendiskusikan pendekatan mitigasi dan rekonsiliasi konflik. Para ahli dalam penelitian trauma dan pemilihan trauma, juga akan diundang untuk berbagi temuan mereka dengan para peserta.

Peserta juga akan berkesempatan untuk mendapatkan biaya operasional liputan dan mentoring untuk untuk merancang dan mengimplementasikan liputan jurnalistik mereka setelah mengikuti proses pelatihan.

Untuk informasi lebih lanjut tentang program ini, calon peserta bisa klik di sini. Formulir pendaftaran diterima paling lambat Jumat, 13 Agustus 2021. [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Kapan Kartu Prakerja Gelombang 22 Dibuka? Ini Jawabannya

Kamis, 23 September 2021 | 10:59 WIB

Jadwal Resmi Libur Nasional dan Cuti Bersama 2022

Kamis, 23 September 2021 | 10:23 WIB

Pegawai Jiwasraya Protes Dirugikan: Cuti Tidak Dibayar

Rabu, 22 September 2021 | 22:42 WIB
X