Wartawan Tempo Dulu: Kartu Pers dan Lencana Pers

- Rabu, 7 Oktober 2020 | 16:34 WIB
Perspenning atau lencana pers wartawan tempo dulu.
Perspenning atau lencana pers wartawan tempo dulu.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Apa beda wartawan tempo dulu dan saat ini? Tak banyak tulisan tentang itu di Google. Tulisan yang ada pun kebanyakan memaksudkan dulu itu bukan dulu-dulu amat, melainkan antara tahun 1980-1990-an. Perbedaan yang disampaikan pun umumnya berkaitan dengan perkembangan teknologi atau infrastrukturnya. Misalnya kalau dulu menulis berita harus memakai mesin tik, sulit menjangkau lokasi liputan lantaran kendaraan terbatas, dan wajib cuci cetak foto dulu sebelum ke kantor. Sekarang bisa menulis, memotret, dan mengambil videonya sekaligus mengirimkannya dengan menggunakan telefon genggam. Transportasi juga saat ini rasanya tak terlalu jadi kendala.

Ada juga yang menganggap etos kerja wartawan dulu lebih baik daripada sekarang dan menilai intimidasi, ancaman, dan teror zaman dulu lebih menyeramkan. Selain itu terjadi saling bersaing dalam mendapatkan berita eksklusif. Ada kepuasan tersendiri manakala berita eksklusif yang ditulis si wartawan dulu menyebabkan reporter lain di media saingannya didamprat pemimpin redaksinya lantaran kecolongan berita.

-
Kartu pers wartawan tempo dulu (Repro dari buku ”Mohamad Koerdie: Karya dan P)

Tulisan berikut ini akan membicarakan perbedaan yang lain lagi dengan perbandingan masa yang jauh lebih lampau, yakni sekarang dengan awal abad ke-20 atau pada masa penjajahan Belanda. Khususnya perbedaan dari sisi kartu pers (preskaart) dan lencana pers (prespenning atau press-insigne).

Keterangan mengenai kartu pers dan lencana pers termuat dalam tulisan Saeroen dalam buku Dibelakang Lajar Journalistiek Indonesia (Batavia-Centrum: Drukkerij Olt & Co, 1936). Saeroen adalah wartawan terkenal pada masanya. Dia pernah menjadi pemimpin redaksi di koran Pemandangan. Buku lain yang ditulis Saeroen di antaranya Tjita-tjita jang Tergoda, Berdiri Dipinggir Jalan, dan Maskawin Paling Tinggi. Belakangan Saeroen menulis skenario film yang laris di pasaran. 

Kartu Pers dan Lencana Pers

Wartawan saat ini tampaknya tak mengenal apa yang disebut dengan lencana pers berikut pemanfaatannya. Namun umumnya tahu apa yang dinamakan kartu pers. Salah satu kartu pers dikeluarkan oleh organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk anggotanya. Untuk mendapatkan kartu ini, wartawan harus mengisi formulir pendaftaran, membuat surat pernyataan pribadi dilengkapi dengan surat pernyataan dari pemimpin redaksi tempat wartawan tersebut berkhidmat. Sejumlah media mengeluarkan kartu pers sendiri untuk wartawannya. Dengan demikian, seorang wartawan bisa mengantongi 4 kartu: kartu pers dari media, kartu pegawai dari media, kartu pers PWI, dan kartu kompetensi dari Dewan Pers.

-
Kartu pers Wytze Keuning yang dikeluarkan ”Nieuwsblad van het Noorden” di Groningen, Belanda, 27 Januari 1947. (https://bit.ly/2SylRAl)

Pada zama dulu, kartu pers dikeluarkan oleh media, ditandatangani pemimpin redaksi dan diotorisasi oleh Politieke Inlichtingen Dienst, badan keamanan penting Belanda yang salah satu tugasnya memang mengontrol pers. Dengan kartu itu, kata Saeroen, ”orang lebih gampang bisa dapat keterangan tentang kedjadian-kedjadian dari jang wadjib.”

Namun pada praktiknya, pemegang kartu pers juga banyak yang belum tahu kegunaannya. Sebagian wartawan malah menggunakannya untuk pamer kepada teman atau tetangganya. Sebagian lainnya untuk mendapat keuntungan pribadi, misalnya untuk masuk bioskop atau nonton sepak bola secara gratis. Secara resmi, tulis Saeroen, kartu pers itu tidak ada artinya. ”Perskaart hanjalah pengakoean hoofdredacteur pada pembantoenja jang sebenarnja diloear apa jang ditetapkan dalam oendang-oendang.”

Tak sedikit pejabat yang menolak mengotorisasi pengajuan kartu pers itu. Tak sedikit juga wartawan yang sudah menunjukkan kartu persnya ditolak masuk ke dalam bioskop atau stadion. Mungkin karena jumlah wartawan lumayan banyak. Tahun 1930-an, ada sekitar 320 wartawan yang memegang kartu pers dan lencana pers di Jakarta saja. Untuk acara-acara tertentu, wartawan tetap harus mengantongi surat undangan resmi dari penyelenggara.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Duh! Ferdy Sambo Tak Jadi Kasih Rp 1 M ke Bharada E?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 18:40 WIB
X