Pengamat: Tak Perlu Demo, Mitra Ojol Medan Bisa Manfaatkan Kopdar Gojek

- Kamis, 15 Agustus 2019 | 15:19 WIB
Ilustrasi mitra Gojek. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Ilustrasi mitra Gojek. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

MEDAN, AYOBANDUNG.COM -- Aksi demonstrasi yang dilakukan pengemudi ojek online di Medan sangat disayangkan. Pendemo dinilai kurang memanfaatkan kesempatan komunikasi dua arah yang telah dibangun perusahaan dengan mitranya sejak lama.

“Yang saya sayangkan kenapa harus berdemo. Toh juga pada dasaynya ada komunikasi dua arah yang dibangun perusahaan dengan mitranya. Jadi harusnya itu dimanfaatkan sebagai media untuk mediasi kedua belah pihak. Mitra bisa memanfaatkan hal tersebut agar masukannya bisa diterima. Karena demo justru hanya memperkeruh,” kata Ekonomi asal Medan, Gunawan Benyamin, Rabu (14/8/2019).

Gunawan menilai aksi demontrasi tersebut masih dilatarbelakangi oleh upaya jaminan kualitas layanan yang dilakukan Gojek. Pertama terkait pemerataan orderan. Dalam survey yang pernah dilakukan Gunawan, ia menemukan adanya keluhan konsumen terkait orderan yang diambil mitra namun proses penjemputan lama. Keluhan tersebut lalu direspon pihak aplikator ojek online Gojek dengan kebijakan yang menjamin kenyamanan konsumen.

“Jadi keluhan tersebut harus direspons, dengan kebijakan yang lebih menjamin kenyamanan konsumen. Seperti memprioritaskan mitra yang lebih banyak memgambil orderan dan diratingkan. Belum lagi mengenai GPS sejumlah mitra yang palsu, ini juga tentunya menjadi pertimbangan kebijakan untuk masalah orderan tersebut,” sebutnya.

Tuntutan lain yang pernah disampaikan pendemo kepada Gojek adalah membuka kembali pendaftaran mitra (on boarding). Padahal, kata Gunawan, jika kebutuhan konsumen masih besar maka on boarding pasti dilakukan Gojek.

AYO BACA : Mitra Gojek Lakukan Aksi Damai, Minta Kantor Gojek Semarang Dibuka Kembali

“Ada juga yang mendemo agar Gojek membuka kali pendaftaran mitra atau on boarding. Isu ini tentunya harus dibarengi sejumlah kajian analisis. Salah satunya adalah keseimbangan antara permintaan dan persediaan. Kalau trennya sudah jenuh, ya memang sebaiknya ditutup dahulu. Ini agar menjaga persaingan antar driver tidak terlalu ketat, kesinambungan pendapatan mitra juga perlu dipertimbangkan di situ,” jelas Gunawan.

Sementara, untuk kasus open suspend, Gunawan menyebutkan harus mempertimbangkan sisi konsumennya terlebih dahulu. Sebab, jika open suspend dibuka begitu saja, dikhawatirkan akan berpotensi merusak bisnis perusahaan. 

“Ada lagi open suspend, yang di-suspend ini kan umumnya mitra bermasalah yang merugikan pelanggan maupun perusahaan. Jadi open suspend ini seharusnya mempertimbangkan sisi konsumennya terlebih dahulu. Bukan dibuka begitu aja. Karena justru sangat berpotensi merusak bisnis Gojek sendiri, dan membuat kualitas layanan Gojek menurun,” tutupnya.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

Daftar Vaksin Covid-19 Online dengan PeduliLindungi

Senin, 18 Oktober 2021 | 22:00 WIB

9 Daerah Turun Status ke PPKM Level 1, Ada Bandung?

Senin, 18 Oktober 2021 | 17:47 WIB

Resmi! PPKM Diperpanjang Lagi hingga 1 November 2021

Senin, 18 Oktober 2021 | 17:25 WIB

Kemenag Siap Selenggarakan Haji, Ini Syaratnya

Senin, 18 Oktober 2021 | 17:14 WIB
X