ITB Temukan Fosil Stegodon Berusia 1,5 Juta Tahun di Majalengka

- Jumat, 21 Desember 2018 | 13:03 WIB
Fosil berupa sepadang gading Stegodon trigonocephalus berumur sekitar 1,5 juta tahun atau di zaman Plestosen Awal yang ditemukan olewh Tim Laboratorium Paleontologi ITB di daerah Majalengka. (Nur Khansa/ayobandung)
Fosil berupa sepadang gading Stegodon trigonocephalus berumur sekitar 1,5 juta tahun atau di zaman Plestosen Awal yang ditemukan olewh Tim Laboratorium Paleontologi ITB di daerah Majalengka. (Nur Khansa/ayobandung)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Tim Laboratorium Paleontologi ITB berhasil menemukan fosil berupa sepadang gading Stegodon Trigonocephalus yang berumur sekitar 1,5 juta tahun atau di zaman Plestosen Awal di daerah Majalengka

Penemuan ini termasuk yang terbesar sepanjang 2018 di Indonesia yang dilakukan oleh tim Laboratrium KK Paleontologi dan Geologi Kuarter, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB (FITB).

Ukuran fosil gading yang ditemukan memiliki panjang lurus dari ujung ke ujung gading sepanjang 3,30 meter, sedangkan panjang lengkung mencapai 3,60 meter. Perlu waktu 4 bulan bagi tim penelitian ITB untuk memboyong fosil ini dari tempat penemuan hingga melakukan restorasi dan rekonstruksi.

"Fosil gading stegodon ini didapatkan dengan proses yang cukup panjang, dan pengangkatan fosil pun tidak mudah. Cuaca buruk dan banjir bandang sempat menjadi halangan, sebab lokasi penemuan berada di dekat aliran sungai," ungkap Dekan FITB, Benyamin Sapiie, saat menggelar konferensi pers di gedung Teknik Geologi ITB, Jumat (21/12/2018).

Bila dilihat dari besar ukuran gading, ia mengatakan, diperkirakan stegodon tersebut berjenis kelamin jantan. Tinggi tubuhnya kemungkinan lebih dari 3 meter.

"Ini termasuk gading stegodon dewasa bahkan sudah sangat tua. Hal itu terlihat dari ujung gading yang sudah aus atau berbentuk pipih," jelasnya.

Salah satu tim peniliti sekaligus dosen dari kelompok keahlian Paleontologi dan Geologi Kuarter FITB, Mika R Puspaningrum mengatakan, spesies stegodon tersebut kemungkinan adalah trigonocephalus yang ada di Pulau Jawa, saat pulau ini masih menjadi daratan.

"Dari makanan juga lebih banyak daun dan rumput-rumputan. Karena ditemukan di sedimen yang berupa lempung, kemungkinan stegodon ini matinya karena terperosok," tuturnya.

Sempat Kesulitan

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Polisi Selidiki Aktor Bentrokan Double O Sorong

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:54 WIB

19 Orang Meninggal dalam Bentrok di Double O Sorong

Selasa, 25 Januari 2022 | 16:53 WIB

Sekolah Induk Jadi Prioritas di PPPK Tahap 3?

Selasa, 25 Januari 2022 | 11:00 WIB
X